Menu

Mode Gelap
Solehudin Terpilih Ketua PK Golkar Watukumpul Secara Aklamasi, Didukung 15 Pengurus Desa PTMSI Pemalang Resmi Dilantik, Bidik Atlet Berprestasi hingga Tingkat Nasional Gus Faqih Imam MAJT Juara 1 Tafsir Al-Qur’an Nasional, Ini Rekam Jejak Prestasinya Video Call Sambil Julurkan Lidah saat Rapat DPR Viral, Moreno Soeprapto Akhirnya Buka Suara Azka Aqila Saputra Raih Emas Kejurnas Taekwondo Piala Panglima TNI 2026, Bawa Nama Pemalang untuk Jawa Tengah Prajurit Yonzipur 4/TK Raih UN Medal dalam Misi Perdamaian PBB di Afrika Tengah

Opini

Merawat Identitas di Tanah Rantau: Filosofi “Temu Manten” Masyarakat Transmigran di Atu Lintang

badge-check


					Temu Manten Perbesar

Temu Manten

Oleh: Selfi Putriana Santi

WARTA NASIONAL – Bentang alam dataran tinggi Gayo yang dingin ternyata menyimpan kehangatan tradisi yang dibawa dari tanah seberang.

Di Desa Atu Lintang, sebuah wilayah yang menjadi rumah bagi masyarakat transmigran asal Jawa, denyut nadi kebudayaan leluhur masih berdebar kencang.

Salah satunya diungkapkan dalam prosesi pernikahan Temu Manten, sebuah warisan luhur yang tetap terjaga meski ribuan kilometer jauhnya dari tanah asal.

Tradisi ini menjadi bukti bagaimana identitas kultural tetap berdiri tegak di tengah keberagaman etnis di Aceh Tengah.Pada tanggal 19 April 2026, kami berdialog dengan tokoh setempat untuk menggali lebih dalam makna di balik ritual yang sarat akan simbolisme ini.
Simbolisme dalam Langkah yang Terjaga.

Joko Wagino, pria berusia 49 tahun yang menjabat sebagai Ketua Rakyat Genap Mupakat (RGM) di Desa Atu Lintang, menjelaskan bahwa Temu Manten adalah warisan yang tak terpisahkan dari kehidupan warga di sana. Sebagai representasi warga, ia melihat tradisi ini sebagai bentuk pelestarian jati diri.

Salah satu momen krusial dalam prosesi ini adalah pertemuan fisik pertama kedua mempelai yang disertai ritual khusus. Pak Joko menjelaskan tahapannya:

“Dimana pertemuan antara pengantin laki-laki dan pengantin Perempuan, lalu Perempuan membantu laki-laki (suami) untuk menginjak telur ayam kampung lalu di basuh dengan air kembang, lalu bersalaman dan di lanjutkan pada proses sungkem kepada kedua orang tua.”

Ritual menginjak telur ayam kampung ini merupakan metafora dari pecahnya masa kesepian dan kesiapan memasuki gerbang rumah tangga.

Sementara itu, tindakan mempelai wanita membasuh kaki suami dengan air kembang bukan sekedar formalitas, melainkan simbol bakti, kesetiaan, dan komitmen untuk saling menjaga kesucian dalam ikatan pernikahan.

Filosofi Kehidupan dan Doa yang Tak Putus

Bagi masyarakat transmigran di Atu Lintang, menjalankan Temu Manten adalah cara mereka mengirimkan doa melalui tindakan.Pak Joko menekankan bahwa inti dari tradisi ini adalah penyatuan dua jiwa.

“Temu manten melambangkan bersatunya dua insan dalam ikatan suci, bukan hanya sebagai pasangan, tetapi juga sebagai awal kehidupan baru bersama,” ungkap Pak Joko.

Lebih dari itu, rangkaian ritual ini mengandung harapan agar bahtera rumah tangga yang dibina senantiasa diliputi keharmonisan dan rasa saling menghormati.Setelah prosesi fisik selesai, acara mencapai puncaknya pada sesi sungkem —sebuah wujud penghormatan tertinggi kepada orang tua yang telah membesarkan mereka.

Eksistensi Tradisi di Tengah Modernitas

Di era digital saat ini, tantangan menjaga tradisi yang dibawa dari tanah Jawa ke tanah Gayo tentu tidak mudah. Namun bagi masyarakat Atu Lintang, tradisi ini tetap memiliki ruang khusus meskipun tidak bersifat mengikat secara hukum agama.
Pak Joko memberikan pandangan yang realistis namun tetap menghargai nilai sejarah:

“Tradisi temu manten itu penting secara makna karena melambangkan bersatunya pasangan dan doa untuk kehidupan rumah tangga. Tapi tidak wajib, karena yang utama adalah sahnya pernikahan,” ujarnya dengan bijak.

Sikap ini menunjukkan bahwa warga tetap memegang teguh esensi pernikahan, namun tetap memberikan ruang bagi kesejahteraan untuk memperkaya makna spiritual dari sebuah ikatan suci.

Akulturasi yang Memperkaya Gayo

Keberadaan Temu Manten di Desa Atu Lintang adalah potret indah dari keragaman Indonesia. Ini bukan sekedar tentang orang Jawa yang tinggal di Aceh, melainkan tentang bagaimana sebuah nilai luhur bisa bertahan dan beradaptasi di lingkungan yang baru.

Melalui wawancara ini, kita belajar bahwa menjaga tradisi adalah cara manusia menghargai asal-usulnya. Sosok seperti Bapak Joko Wagino mengingatkan kita bahwa identitas budaya adalah jangkar yang menjaga kita tetap berpijak, di mana pun kaki melangkah.

Di tanah Gayo, Temu Manten akan terus menjadi simbol bahwa doa dan harapan dalam sebuah pernikahan selalu memiliki cara yang indah untuk disampaikan.***

Baca Lainnya

Pemilu: Dari Partisipatif Menuju Pragmatis, Benarkah ‘Ora Ono Duit Ora Nyoblos’?

14 September 2026 - 09:26 WIB

Ketika Kampus Negeri Tersandung, Kemana Jatidiri UNSOED (JDU)?

24 Agustus 2026 - 08:53 WIB

Rumah Sakit dan Dua Matahari: Memahami Birokrasi Profesional dan Dual Leadership

22 Agustus 2026 - 11:19 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Hakim Sejahtera, Peradilan Berintegritas: Menguatkan Komisi Yudisial dan Penghubung KY di Daerah

12 Agustus 2026 - 12:38 WIB

Koordinator Penghubung KY Jateng Muhammad Farhan

Reminder Penguasa Langit Terhadap Bumi Venezuela

4 Juli 2026 - 11:11 WIB

Trending di Opini