WARTA NASIONAL – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mendesak Presiden RI Prabowo Subianto meminta maaf atas pernyataannya yang menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai bagian dari londo ireng.
Sekretaris Jenderal AJI, Bayu Wardhana, menilai pernyataan tersebut tidak berdasar dan berpotensi mendiskreditkan profesi jurnalis yang bekerja menjalankan fungsi mencari serta menyampaikan fakta kepada publik.
“Presiden harus minta maaf karena menuduh jurnalis londo ireng,” kata Bayu kepada wartawan, Jumat (24/7).
Menurut Bayu, penyematan istilah londo ireng terhadap jurnalis merupakan tuduhan yang tidak memiliki dasar. Ia berharap pemerintah lebih memfokuskan perhatian pada penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kami berharap pemerintah kembali fokus bekerja karena masih banyak pekerjaan lain yang ditunggu rakyat,” tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik terhadap pihak-pihak yang menurutnya masih memiliki sikap seperti londo ireng.
Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan istilah tersebut pada masa penjajahan Belanda digunakan untuk menyebut pribumi yang berpihak kepada penjajah dan mengkhianati bangsanya sendiri.
Menurut Prabowo, karakter serupa masih dapat ditemukan hingga saat ini, meski hadir dalam bentuk yang berbeda.
“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?” ujar Prabowo saat menyampaikan sambutan pada Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, pada Kamis (23/7) malam.
Pernyataan Presiden tersebut menuai respons dari berbagai kalangan, termasuk organisasi profesi wartawan. AJI menilai kritik terhadap media seharusnya disampaikan secara proporsional dan tidak menggeneralisasi profesi jurnalis yang menjalankan tugas sesuai kode etik jurnalistik.***














