Menu

Mode Gelap
Mohammad Saleh Dukung Wisata Berbasis Aglomerasi untuk Dongkrak Ekonomi Daerah di Jateng Pegadaian Kanwil XI Semarang Gelar Khitan Massal Gratis 2 Juli 2026, Terbuka untuk Semua Usia Fahmidh Dhuha Usulkan Pembangunan SPBN di Danasari, Permudah Nelayan Dapatkan BBM Fahmidh Dhuha Usulkan Pembangunan SPBN di Danasari, Permudah Nelayan Dapatkan BBM Gubernur Ahmad Luthfi Tegaskan Perizinan Kapal Nelayan Gratis, Minta Laporkan Jika Ada Pungutan 368 Warga Baru PSHT Pemalang Resmi Disahkan, Bupati Anom Tekankan Persaudaraan dan Kedamaian

Opini

Tabayyun, Klarifikasi, Konfirmasi Cek Ulang Kebenaran Suatu Info

badge-check


					Masrifan Djamil Perbesar

Masrifan Djamil

Oleh: Masrifan Djamil*

WARTA NASIONAL – Di dunia ini banyak kejadian, lebih banyak negatif bahkan banjir darah bermula dari salah informasi, distorsi informasi, salah komunikasi, buruknya komunikasi dan lain-lain (dll).

Ada kisah dahsyat dimana kerajaan Mataram Surakarta yang jadi legenda menjadi nama suatu desa dimana dulu saya bekerja, Desa Sigaluh, Kecamatan Sigaluh Kab Banjarnegara. Kata sahibul hikayat, sigaluh berasal dari sega (nasi, bahasa lokalnya sega) yang ditetesi air mata (luh – bahasa Jawa). Mengapa sampai terjadi musibah besar itu?

Jawabnya karena salah komunikasi. Ini ceritanya: Bupati Banyumas saat itu menginduk ke Mataram Surakarta Hadiningrat, suatu hari mengirim “glondong pengareng-areng” (hantaran) untuk Raja Surakarta, berupa beberapa gerobak hasil bumi dan lain-lain. Ada juga seorang putri yang dipersembahkan kepada sang Raja, untuk menjadi selir raja sebagai tanda setia.

Semua hantaran diterima oleh Raja, namun karena suatu hal, putri diminta dibawa pulang, alias dipulangkan, karena berdasarkan informasi intelijen, ada yang tidak beres dalam rombongan putri dan punggawanya (para pelayannya), membahayakan istana. Raja juga mengutus pengawal yang siap melakukan eksekusi bila di perjalanan ada gejala perlawanan dan pembangkangan dari rombongan.

Dalam kurun waktu perjalanan dari Solo dengan kendaraan kuda dan gerobak menuju Banyumas, di istana terjadi berbagai kesibukan untuk membahas info intelijen itu. Akhirnya sang raja menemukan kebenaran, bahwa berita adanya usaha makar melalui pengiriman putri Tumenggung Banyumas adalah fitnah dari pihak yang tidak senang dengan kedekatan sang Tumenggung dengan Raja.

Maka raja mengutus pasukan gerak cepat untuk menjemput kembali sang putri dan rombongannya, untuk dibawa kembali ke Surakarta dan pesan untuk meminta maaf kepada Tumenggung. Rombongan itu harus bergegas, jangan sampai rombongan sang putri sudah keburu sampai di Banyumas.

Rombongan sang putri dari Banyumas sampai di desa di tepi sungai Serayu, sekitar 8 Km dari Kota Banjarnegara. Rupanya para pengawal yang diutus mengantar kepulangan sang putri, diantaranya ada yang membocorkan rahasia kenapa sang putri dipulangkan, dan dikawal pula, serta menunggu perintah raja untuk eksekusi di perjalanan. Timbullah ketegangan di desa itu, walaupun ada kegembiraan dengan prosesi menjamu tamu dengan makan siang yang lengkap.

Rombongan sedang dijamu Kepala Desanya dan para tokoh masyarakat berkumpul bersuka-cita karena rombongan Banyumas berkenan singgah di desa itu. Tiba-tiba datang rombongan kedua berkuda dengan kencang dari istana Raja Surakarta. Setelah kelihatan dekat, mereka mengacung-acungkan keris dan teriak-teriak, “Batalkan eksekusi….”. Karena bercampur dengan deru sepatu kuda yang berlari kencang, isyarat itu dan teriakan itu menjadi kurang jelas, namun diartikan sebagai perintah eksekusi.

Maka para pengawal yang dari istana solo dibantu para tokoh setempat yang setia kepada Raja, mengeksekusi semua pasukan rombongan termasuk sang putri. Darah berhamburan dari tikaman keris dan golok. Namun setelah rombongan kedua sampai, tafsiran salah sudah kadung dilakukan. Eksekusi rombongan pertama.

Pemimpin rombongan kedua dengan gugup dan terbata-bata menyampaikan bahwa perintah Raja adalah batalkan eksekusi. Pecahlah tangis yang hadir, bercucuranlah air mata yang sedang menikmati hidangan, jatuh di atas nasi di depannya. Nasi (sega) ditetesi air mata, air mata adalah luh. Maka jadilah SEGALUH, lama-lama menjadi SIGALUH. Ini legenda yang saya serap ketika bertugas disana, jika keliru-keliru nama atau beda dengan kisah yg benar, mohon tidak dibahas, karena intinya, salah komunikasi (misscommunication) bisa berakibat fatal.

ISLAM ADALAH AGAMA SUPERMODERN, DAN AGAMA SOLUSI

Islam adalah agama supermodern, mendahulukan pikiran jernih dan cerdas, jauhkan emosi. Check and recheck apa saja informasi yang masuk ke dalam diri kita, jangan keburu bertindak, jangan keburu berkata, yang justru salah, karena inputnya salah, analisa jadi salah, maka hasilnya salah.

Kita diminta tabayyun oleh Allah ﷻ atas suatu berita (info) yang dibawa orang fasik, sebelum berkata dan mengambil keputusan. Jangan sampai ada korban yang akan engkau sesali karena engkau tak mau bertabayyun. Firman Allah ﷻ

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓ اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan (mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu (QS Al-Hujurat [49]: 6).

 

*) Masrifan Djamil adalah aktivis gerakan edukasi umat di berbagai ormas dan organisasi profesi dokter, dia adalah seorang dokter, doktor ilmu kedokteran, master of public health, ahli kesehatan masyarakat, ahli manajemen RS dan muballigh.

 

Baca Lainnya

Jalan Rusak di Pemalang: Bukti Pengingkaran Amanat Konstitusi

10 Juni 2026 - 16:29 WIB

Ilustrasi - Jalan Rusak

Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

13 Mei 2026 - 08:25 WIB

Thaharah Mu’asyirah

Tradisi atau Adat Istiadat Daerah: Mekhadat di Aceh Tenggara

12 Mei 2026 - 14:35 WIB

Sopy Khadijah UIN Sultanah Nahrasiah Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan prodi Tadris Bahasa Indonesia

ASN Curang di Brebes: Bupati Jangan Hanya Bisa ‘Geram’

2 Mei 2026 - 15:28 WIB

Aristianto Zamzami

Merawat Identitas di Tanah Rantau: Filosofi “Temu Manten” Masyarakat Transmigran di Atu Lintang

28 April 2026 - 19:27 WIB

Temu Manten
Trending di Opini