Menu ✖

Mode Gelap
Rosi Alfon Nugroho hingga Novi Lailatul Faroh Dilantik, Ini Jabatan Barunya Sempat Jadi Sorotan, Panpel Tegaskan Nomor Renang 200 Meter Tetap Dilombakan di POPDA Pemalang 2026 Nomor Renang 200 Meter POPDA Pemalang Ditiadakan, Bagaimana Nasib Atlet Pelajar? KAHMI Jateng Akan Gelar Jalan Sehat Milad ke-60, Siapkan Hadiah Sepeda Listrik dan Emas Antam HUT ke-62 Partai Golkar, Wakil Ketua DPRD Pemalang Aris Ismail Tegaskan Politik sebagai Pengabdian kepada Rakyat HUT ke-62 Golkar, Mohammad Saleh Tegaskan Komitmen Semakin Dekat dengan Rakyat

Opini

NU Tidak Akan Maju dan Modern Jika Politik Uang Masih Membayangi Pemilihan Ketua Umum

badge-check


					Sekretaris Jenderal HIMANU, Taufiq CH Perbesar

Sekretaris Jenderal HIMANU, Taufiq CH

Oleh: Taufik Ch*

WARTA NASIONAL – Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan sulit berkembang menjadi organisasi yang maju dan modern apabila proses pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar masih dibayangi praktik politik uang.

Ketika proses tersebut mengabaikan kualitas keulamaan yakni kedalaman ilmu agama serta akhlakul karimah, maka potensi kemunduran menjadi sesuatu yang nyata.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa praktik politik uang menjadi penghambat serius bagi kemajuan NU.

Pertama, merusak kredibilitas kepemimpinan. Pemimpin yang terpilih karena kekuatan finansial cenderung kehilangan legitimasi moral. Tidak hanya itu, kapasitas intelektual dan visi kepemimpinannya pun seringkali dipertanyakan. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan tidak progresif dan kurang mampu menjawab tantangan zaman.

Kedua, mengabaikan nilai-nilai inti organisasi. NU dibangun di atas fondasi pesantren, tradisi keilmuan, serta etika Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Praktik politik uang jelas bertentangan dengan prinsip amanah, tabligh, fathanah, dan siddiq nilai-nilai yang seharusnya melekat pada para kiai dan pengurus.

Ketiga, menghambat regenerasi ulama berkualitas. Ketika proses pemilihan lebih ditentukan oleh kekuatan materi, figur-figur yang unggul secara keilmuan dan akhlak berpotensi tersingkir. Kondisi ini tentu menghambat lahirnya kepemimpinan yang sehat dan berkelanjutan, serta menyulitkan NU untuk beradaptasi dengan dinamika modernitas.

Keempat, memicu budaya pragmatis dan koruptif. Politik uang menumbuhkan pola pikir transaksional dan instan. Budaya ini bertolak belakang dengan upaya membangun tata kelola organisasi yang modern, transparan, dan akuntabel.

Sebaliknya, NU memiliki peluang besar untuk menjadi organisasi yang maju dan modern apabila proses pemilihannya mengedepankan kualitas keulamaan dan akhlakul karimah. Kepemimpinan yang lahir dari proses yang bersih akan memiliki kredibilitas, integritas, serta kemampuan inovasi yang kuat.

Dengan demikian, NU dapat tampil sebagai organisasi yang dinamis, adaptif terhadap perubahan, namun tetap kokoh menjaga tradisi keagamaan.

Oleh karena itu, seluruh elemen NU terutama para kiai, pengurus, dan warg perlu bersikap tegas menolak praktik politik uang dalam setiap mekanisme pemilihan. Sudah saatnya tolok ukur kepemimpinan dikembalikan pada kapasitas ilmiah dan integritas moral, bukan pada kekuatan finansial.***

*) Sekretaris Jenderal HIMANU

Baca Lainnya

RTH Bumiayu Mangkrak, Di Mana Keseriusan Pemkab dan DPRD Brebes?

12 Oktober 2026 - 19:50 WIB

Pemilu: Dari Partisipatif Menuju Pragmatis, Benarkah ‘Ora Ono Duit Ora Nyoblos’?

14 September 2026 - 09:26 WIB

Ketika Kampus Negeri Tersandung, Kemana Jatidiri UNSOED (JDU)?

24 Agustus 2026 - 08:53 WIB

Rumah Sakit dan Dua Matahari: Memahami Birokrasi Profesional dan Dual Leadership

22 Agustus 2026 - 11:19 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Hakim Sejahtera, Peradilan Berintegritas: Menguatkan Komisi Yudisial dan Penghubung KY di Daerah

12 Agustus 2026 - 12:38 WIB

Koordinator Penghubung KY Jateng Muhammad Farhan
Trending di Opini