Menu

Mode Gelap
Kode Redeem Free Fire Terbaru Senin 25 Mei 2026: Klaim Token Gintama, Diamond hingga Bundle Eksklusif Hj Umi Surotud Diniyah SE Sosok Perempuan Inspiratif yang Aktif Berdayakan Perempuan, UMKM dan Kegiatan Sosial di Jateng Dugaan Abuse of Power dalam Mutasi Guru di Pemalang Jadi Sorotan, Untung Budiarso: Dinilai Langgar AUPB Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah 1447 Hijriah: Lengkap Arab, Latin, dan Keutamaannya Sore Ini! Kode Redeem Free Fire Terbaru Hari Ini, Minggu 24 Mei 2026: Ada Diamond, Bundle Gintoki hingga Skin SG2 FISIP Undip Bedah Buku Politik, Mohammad Saleh Soroti Tantangan Politik Digital

Opini

NU Tidak Akan Maju dan Modern Jika Politik Uang Masih Membayangi Pemilihan Ketua Umum

badge-check


					Sekretaris Jenderal HIMANU, Taufiq CH Perbesar

Sekretaris Jenderal HIMANU, Taufiq CH

Oleh: Taufik Ch*

WARTA NASIONAL – Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan sulit berkembang menjadi organisasi yang maju dan modern apabila proses pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar masih dibayangi praktik politik uang.

Ketika proses tersebut mengabaikan kualitas keulamaan yakni kedalaman ilmu agama serta akhlakul karimah, maka potensi kemunduran menjadi sesuatu yang nyata.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa praktik politik uang menjadi penghambat serius bagi kemajuan NU.

Pertama, merusak kredibilitas kepemimpinan. Pemimpin yang terpilih karena kekuatan finansial cenderung kehilangan legitimasi moral. Tidak hanya itu, kapasitas intelektual dan visi kepemimpinannya pun seringkali dipertanyakan. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan tidak progresif dan kurang mampu menjawab tantangan zaman.

Kedua, mengabaikan nilai-nilai inti organisasi. NU dibangun di atas fondasi pesantren, tradisi keilmuan, serta etika Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Praktik politik uang jelas bertentangan dengan prinsip amanah, tabligh, fathanah, dan siddiq nilai-nilai yang seharusnya melekat pada para kiai dan pengurus.

Ketiga, menghambat regenerasi ulama berkualitas. Ketika proses pemilihan lebih ditentukan oleh kekuatan materi, figur-figur yang unggul secara keilmuan dan akhlak berpotensi tersingkir. Kondisi ini tentu menghambat lahirnya kepemimpinan yang sehat dan berkelanjutan, serta menyulitkan NU untuk beradaptasi dengan dinamika modernitas.

Keempat, memicu budaya pragmatis dan koruptif. Politik uang menumbuhkan pola pikir transaksional dan instan. Budaya ini bertolak belakang dengan upaya membangun tata kelola organisasi yang modern, transparan, dan akuntabel.

Sebaliknya, NU memiliki peluang besar untuk menjadi organisasi yang maju dan modern apabila proses pemilihannya mengedepankan kualitas keulamaan dan akhlakul karimah. Kepemimpinan yang lahir dari proses yang bersih akan memiliki kredibilitas, integritas, serta kemampuan inovasi yang kuat.

Dengan demikian, NU dapat tampil sebagai organisasi yang dinamis, adaptif terhadap perubahan, namun tetap kokoh menjaga tradisi keagamaan.

Oleh karena itu, seluruh elemen NU terutama para kiai, pengurus, dan warg perlu bersikap tegas menolak praktik politik uang dalam setiap mekanisme pemilihan. Sudah saatnya tolok ukur kepemimpinan dikembalikan pada kapasitas ilmiah dan integritas moral, bukan pada kekuatan finansial.***

*) Sekretaris Jenderal HIMANU

Baca Lainnya

Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

13 Mei 2026 - 08:25 WIB

Thaharah Mu’asyirah

Tradisi atau Adat Istiadat Daerah: Mekhadat di Aceh Tenggara

12 Mei 2026 - 14:35 WIB

Sopy Khadijah UIN Sultanah Nahrasiah Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan prodi Tadris Bahasa Indonesia

ASN Curang di Brebes: Bupati Jangan Hanya Bisa ‘Geram’

2 Mei 2026 - 15:28 WIB

Aristianto Zamzami

Merawat Identitas di Tanah Rantau: Filosofi “Temu Manten” Masyarakat Transmigran di Atu Lintang

28 April 2026 - 19:27 WIB

Temu Manten

GERD dan Psikosomatis: Keluhan Nyeri Nyata atau dibuat-buat?

24 April 2026 - 08:09 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua
Trending di Opini