Menu

Mode Gelap
DPC Peradi Pemalang Masa Bakti 2026-2031 Resmi Dilantik, Misbakhul Munir Nahkodai Organisasi Malam Ini! 19 Kode Redeem Free Fire Terbaru Sabtu 25 Juli 2026, Buruan Klaim Hadiah Gratis Sebelum Hangus AJI Desak Prabowo Minta Maaf Usai Sebut Wartawan dan Jurnalis ‘Londo Ireng’ Ketua PWI Solo: Pernyataan ‘Londo Ireng’ Berpotensi Timbulkan Stigma terhadap Wartawan Siswanto Dorong Program Pengolahan Sampah Maggot Jadi Solusi Lingkungan dan Peningkatan Ekonomi Warga Pegadaian Kanwil XI Semarang Perkuat Sinergi dengan POLRI, Tingkatkan Keamanan Operasional dan Kepercayaan Nasabah

Opini

GERD dan Psikosomatis: Keluhan Nyeri Nyata atau dibuat-buat?

badge-check


					dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua Perbesar

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Oleh: dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua*

WARTA NASIONAL – Sering kita temui atau bahkan kita sendiri sering merasa peruh perih atau eneg atau kembung bahkan nyeri dada. Banyak yang mengeluh keluhan ini sudah sejak lama berbulan-bulan bahkan tahunan, sudah berobat tapi tidak kunjung sembuh.

Orang menjadi tambah panik dan cemas dengan kondisi tersebut takut sakit jantung atau penyakit berat lainnya. Kita perlu tahu kapan kondisi tersebut memang betul-betul penyakit berat atau karena ada kondisi psikologis yang sering dikenal dengan nama psikosomatis.

Dalam dunia kesehatan kondisi ini sering dikenal dengan nama GERD. Nah apa sebenarnya GERD itu ? GERD atau gastroesophageal reflux disease adalah kondisi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan sehingga menimbulkan keluhan seperti rasa panas di dada, asam/pahit di mulut, dada tidak nyaman, mual, tenggorokan mengganjal, batuk kronik, atau suara serak. Dalam praktik sehari-hari, GERD sering dianggap semata-mata sebagai “asam lambung naik”. Padahal, pada banyak pasien, GERD bukan hanya urusan lambung, tetapi juga berkaitan erat dengan pola hidup, tidur, emosi, stres, kecemasan, dan cara tubuh menafsirkan rasa tidak nyaman. GERD secara klinis dapat ditegakkan dari gejala khas dan respons terhadap obat penekan asam, namun pada kasus yang tidak membaik, perlu evaluasi lebih lanjut untuk memastikan apakah benar terjadi refluks patologis atau ada faktor lain yang menyerupai GERD.

Aspek psikosomatis pada GERD tidak berarti keluhan pasien “dibuat-buat”. Justru sebaliknya, keluhannya nyata. Yang terjadi adalah hubungan dua arah antara otak dan saluran cerna, sering disebut gut-brain axis. Saat seseorang cemas, tegang, kurang tidur, atau berada dalam tekanan kronik, sistem saraf otonom dan hormon stres dapat memengaruhi gerakan lambung, sensitivitas kerongkongan, produksi asam, serta persepsi nyeri.

Akibatnya, rangsangan kecil yang pada orang lain biasa saja dapat terasa sangat mengganggu seperti dada panas, sesak, berdebar, tenggorokan tercekat, atau takut terkena penyakit jantung. Studi dan meta-analisis menunjukkan gangguan psikososial berhubungan dengan GERD, dan hubungan ini kemungkinan bersifat dua arah GERD dapat memicu cemas, sementara kecemasan dan depresi juga dapat memperberat gejala GERD.

Inilah sebabnya sebagian pasien tetap merasa “asam lambung naik” walaupun endoskopi normal atau obat pelindung lambung atau penurun asam lambung sudah diminum. Pada kelompok ini, dokter perlu mempertimbangkan non-erosive reflux disease, reflux hypersensitivity, atau *functional heartburn*. Artinya, masalah utamanya tidak selalu jumlah asam yang berlebihan, tetapi kerongkongan yang menjadi lebih sensitif, kewaspadaan tubuh yang meningkat, serta kecemasan terhadap gejala.

American College of Gastroenterology menyebut pemeriksaan pH-impedance dapat membantu menilai refluks asam, refluks non-asam, dan hipersensitivitas refluks pada pasien yang tidak membaik dengan terapi standar.

Namun demikian kita juga perlu mewaspadai adanya *alarm symptom* pada keluhan GERD. Alarm Symptom adalah tanda-tanda yang mengarah pada kemungkinan masalah lebih serius dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan, termasuk endoskopi.

Segera periksakan diri ke dokter bila keluhan disertai sulit menelan, nyeri saat menelan, muntah berulang, muntah darah, BAB hitam, anemia, berat badan turun tanpa sebab jelas, nyeri dada berat, cepat kenyang, atau keluhan GERD baru muncul pada usia di atas 40–50 tahun. Pemeriksaan endoskopi membantu melihat kondisi kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari secara langsung, sehingga dokter dapat menilai apakah ada luka, penyempitan, perdarahan, infeksi, atau kelainan lain yang perlu ditangani lebih serius.

Tatalaksana GERD tetap harus menyentuh dua sisi yaitu lambung dan aspek psikologis. Dari sisi lambung, konsensus nasional Indonesia 2024 menganjurkan penurunan berat badan pada pasien overweight/obesitas, menghindari pemicu seperti kopi, cokelat, minuman bersoda, makanan pedas/asam, makanan tinggi lemak, tidak makan dalam 3 jam sebelum tidur, meninggikan kepala saat tidur, berhenti merokok, serta penggunaan PPI sebagai terapi lini pertama dengan cara minum yang benar, yaitu 30–60 menit sebelum makan.

Namun pada GERD yang kuat unsur psikosomatisnya, obat saja sering tidak cukup. Pasien perlu diajak memahami pola pencetusnya, kapan kambuh, makanan apa yang memicu, apakah muncul saat banyak pikiran, kurang tidur, konflik, atau kelelahan. Latihan napas diafragma, relaksasi, olahraga teratur, perbaikan tidur, konseling, Cognitive Behavioral Therapy atau Terapi Perilaku Kognitif, gut-directed hypnotherapy, dan pada kasus tertentu neuromodulator dosis rendah dapat dipertimbangkan oleh dokter. Pendekatannya bukan “ini hanya pikiran”, tetapi “tubuh dan pikiran sedang saling memengaruhi”.

Inilah kunci edukasi GERD modern dengan mengobati asamnya, menata pola hidupnya, dan menenangkan sistem sarafnya. Mari kita lebih peka terhadap keluhan GERD yang sering kambuh, terutama bila disertai nyeri dada, sulit menelan, berat badan turun, muntah darah, atau BAB hitam.

Kenali pemicunya, perbaiki pola makan dan pola tidur, kelola stres dengan lebih sehat, serta konsultasikan ke dokter agar keluhan ditangani secara tepat karena GERD yang baik penanganannya bukan hanya membuat lambung lebih nyaman, tetapi juga membuat hidup lebih tenang.

Pemalang, 24 April 2026

*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital

Baca Lainnya

Reminder Penguasa Langit Terhadap Bumi Venezuela

4 Juli 2026 - 11:11 WIB

Keadilan Tuhan Terhadap Perempun yang Hijrah

27 Juni 2026 - 21:11 WIB

Prof. Dr. Hj.Yuyun Affandi,Lc.MA

Jalan Rusak di Pemalang: Bukti Pengingkaran Amanat Konstitusi

10 Juni 2026 - 16:29 WIB

Ilustrasi - Jalan Rusak

Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

13 Mei 2026 - 08:25 WIB

Thaharah Mu’asyirah

Tradisi atau Adat Istiadat Daerah: Mekhadat di Aceh Tenggara

12 Mei 2026 - 14:35 WIB

Sopy Khadijah UIN Sultanah Nahrasiah Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan prodi Tadris Bahasa Indonesia
Trending di Opini