Menu

Mode Gelap
Hadiri Rakor Bahas Kondusifitas Nataru 2025, Bupati Anom: Pemkab Pemalang Siap Ikuti Arahan Provinsi Jateng Purnel FC Suradadi Juara NCM Open Sugihwaras 2025, Ini Pesan Bupati Anom Bupati Anom Sebut Peran Mubalighat Aisyiyah Sangat Strategis dalam Penyampaian Ajaran Islam Politisi PKB Sambut Baik Raperda Pembentukan Dana Cadangan Pilkada 2029 Resmi Diluncurkan Program Z-Coffee dan BMM, BAZNAS Bakal Canangkan 1.300 Zmart di Jawa Tengah Gabung UNGC, KAI Hadirkan Layanan Transportasi Publik yang Aman, Inklusif dan Rendah Emisi

Opini

Energi Masyarakat yang Terkuras oleh Kebijakan Pemerintah Daerah

badge-check


					Ketua Yayasan Institut Agama Islam Pemalang, Heri Perbesar

Ketua Yayasan Institut Agama Islam Pemalang, Heri

Oleh : Heriyanto* 

WARTA NASIONAL – Sering kali pemerintah daerah mengumumkan kebijakan baru, masyarakat berharap ada angin segar. Namun yang disuguhkan justru mengundang badai. Bukan badai hujan, melainkan badai aturan, pungutan, dan prosedur yang menguras tenaga, pikiran, dan kantong rakyat.

Alih-alih membebaskan warga untuk berkreasi, banyak kebijakan malah membingungkan. Pelaku usaha kecil harus berjibaku mengurus izin yang berubah-ubah. Petani dipusingkan oleh program bantuan yang datang dengan syarat rumit dan data yang sering kali tidak akurat. Warga kota pun tak luput dalam himpitan retribusi parkir, pajak daerah, hingga denda yang datang tanpa peringatan.

Ironisnya, semua ini dibungkus rapi dengan jargon: “Demi pembangunan daerah.” Padahal yang dibangun sering kali hanya gedung megah, bukan kesejahteraan. Yang diperkuat justru birokrasi, tidak dengan ekonomi rakyat.

Masyarakat seolah sedang diperas energinya untuk menopang mesin kebijakan yang boros dan tak efisien. Mereka berlari, tapi di atas mesin treadmill: keringat bercucuran, namun tak pernah maju.

Wes wayae Baca : Sudah saatnya pemerintah daerah berhenti membuat kebijakan dari balik meja dan mulai melihat dari mata warga yang tergilas dampaknya. Dengarkan keluh kesah mereka, libatkan mereka sejak awal, dan ciptakan aturan yang memudahkan, bukan memeras.

Energi rakyat bukanlah sumber daya yang bisa dipakai sesuka hati. Sekali habis, yang tersisa hanyalah keletihan massal dan itu adalah awal dari runtuhnya kepercayaan.

Ongkos politik memang mahal. Oleh sebab itu beragam aturan dan pembangunan tak tepat sasaran sering jadi alasan, tentu semua sudah menjadi rahasia umum karena Bohir sudah menunggu jatah kapan balikin modal. Masyarakat harus berani hentikan politik buta hanya karena rupiah musiman yang membawa kesengsaraan berkepanjangan.

*) Ketua Yayasan Institut Agama Islam Pemalang ***

Baca Lainnya

Momentum Hari Disabilitas Internasional 2025, Tantangan dan Hambatan Penyandang Disabilitas

3 Desember 2025 - 10:38 WIB

Untung Budiarso

Maknai Hari Pahlawan dengan Semangat Juang, Keteladanan dan Pengabdian untuk Rakyat

10 November 2025 - 12:06 WIB

Priwantoro, SE., S.Kom

Waspada Gula Tersembunyi: Belajar Baca Label Makanan

7 November 2025 - 11:12 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Hari Pemuda dan Strategi ‘Langkah Kuda’ Membangun Pemalang

17 Oktober 2025 - 17:08 WIB

Tabayyun, Klarifikasi, Konfirmasi Cek Ulang Kebenaran Suatu Info

6 Oktober 2025 - 10:23 WIB

Masrifan Djamil
Trending di Opini