WARTA NASIONAL – Laut bukan sekadar tempat nelayan mencari ikan. Di balik hasil tangkapan yang didaratkan, terdapat rantai ekonomi yang panjang dan melibatkan banyak masyarakat, mulai dari nelayan, pedagang, pelaku usaha pengolahan hasil laut hingga tenaga kerja di kawasan pesisir.
Geliat ekonomi tersebut salah satunya terlihat di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjungsari, Kabupaten Pemalang.
Aktivitas pelelangan menjadi titik awal pergerakan hasil laut sebelum kemudian diperdagangkan maupun diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Bagi nelayan, keberadaan pelelangan memberikan keuntungan tersendiri karena hasil tangkapan dapat dipertemukan dengan para pembeli dan berpotensi memperoleh harga yang lebih baik.
“Kalau ada pelelangan kayak gini itu malah nelayannya senang, harganya bisa naik-naik kalau pelelangan,” ujar salah seorang nelayan.
Aktivitas nelayan sendiri sangat bergantung pada musim. Saat musim cumi, nelayan dapat melaut sekitar enam jam dalam satu perjalanan. Sedangkan ketika musim udang, waktu melaut bisa mencapai tiga hari.
Hasil tangkapan yang kemudian dilelang menjadi bahan baku bagi berbagai usaha masyarakat pesisir. Salah satunya usaha pengolahan ikan asin.
“Kalau saya misalnya ikan asin, ikannya teri, capung, panjang, macam-macam tergantung datangnya dari nelayan. Kita dapat dari lelangan,” ungkap seorang pelaku usaha M. Iwayan Saputra.
Proses pengolahan dilakukan melalui beberapa tahapan. Ikan terlebih dahulu direndam dalam air garam sekitar enam jam, kemudian direbus dan dijemur. Setelah kurang lebih dua hari, ikan yang telah kering siap dikemas dan dipasarkan.
Selain ikan asin, hasil tangkapan nelayan juga diolah menjadi ikan asap. Salah satu pelaku usaha, Ibu Rahayu, mengolah berbagai jenis ikan segar menjadi produk ikan asap.
“Usaha saya pengasapan ikan. Jenis ikannya ada beberapa, ikan mas, ikan sido, ikan salmon, ikan panjat, ikan tongkol, ikan layang, ikan capung, dan lain-lain masih ada,” katanya.
Berkembangnya usaha pengolahan hasil laut tidak hanya meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Salah satu pelaku usaha Pengolah hasil laut Tanjungsari, M. Iwayan Saputra bahkan telah mempekerjakan 19 orang, yang berasal dari keluarga maupun masyarakat di lingkungan pesisir.
“Saya mempunyai karyawan 19 orang, dari keluarga, dari masyarakat lingkungan, dari pesisir. Tugasnya macam-macam, ada yang bagian asinin ikan, ada yang rebus, ada yang bagian lapangan menjaga kering ikan biar tidak terlalu kering juga,” jelasnya.
Pertumbuhan tenaga kerja tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi. Semakin besar usaha yang dijalankan, semakin banyak pula kebutuhan bahan baku dan tenaga untuk mengolah hasil laut.
Dalam proses tersebut, permodalan menjadi salah satu faktor penting untuk mengembangkan usaha.
“Pengembangan usaha itu dari permodalannya. Permodalannya kita alhamdulillah dibantu dari BRILink Agent. Tadinya cuma bisa dua ton, tiga ton, sekarang bisa sampai tujuh ton,” ungkap pelaku usaha tersebut.
BRILink Dekatkan Layanan Keuangan
Di tengah aktivitas ekonomi masyarakat pesisir yang terus bergerak, kebutuhan terhadap layanan keuangan juga semakin besar.
Kehadiran BRILink Agen KUD Mina Misoyo Sari di kawasan TPI Tanjungsari menjadi salah satu upaya mendekatkan akses layanan perbankan kepada masyarakat.
Ketua KUD Mina Misoyo Sari, Abul Hasan, menjadi bagian dari aktivitas koperasi yang berada di tengah ekosistem ekonomi masyarakat pesisir tersebut.
Layanan BRILink dimanfaatkan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelaku usaha perikanan, pedagang, nelayan, anggota koperasi hingga warga sekitar.
Transaksi yang dilakukan beragam, mulai dari pembayaran pembelian ikan, setoran, tabungan, transfer hingga berbagai pembayaran lainnya.
“Yang sering menggunakan layanan BRILink di sini satu, pelaku usaha perikanan di sini, pedagang, nelayan, anggota koperasi, juga warga sekitar,” jelas pengelola layanan BRILink.
Keberadaan layanan tersebut dinilai memberikan efisiensi bagi masyarakat. Mereka tidak perlu lagi menempuh jarak yang cukup jauh untuk mendapatkan layanan transaksi keuangan.
“Perubahannya sangat dirasakan oleh mereka. Mereka sekarang lebih efisien untuk melakukan transaksi keuangan, tidak perlu memakan waktu, tidak perlu menempuh jarak yang lumayan jauh, cukup hanya hitungan menit, terus selesai,” ujarnya.
Sebelum adanya layanan BRILink, sebagian masyarakat masih melakukan transaksi secara manual dengan pembayaran tunai. Kini, berbagai kebutuhan transaksi dapat dilakukan lebih mudah dan dekat dengan lokasi aktivitas ekonomi mereka.
“Setelah adanya BRILink, mereka sangat terbantu. Semua kegiatan-kegiatan transaksi mereka bisa terselesaikan di BRILink ini,” tambahnya.
Rantai ekonomi di kawasan TPI Tanjungsari menunjukkan bagaimana hasil laut menjadi sumber kehidupan yang menggerakkan berbagai sektor.
Dari nelayan yang melaut, hasil tangkapan yang dilelang, pedagang yang membeli, hingga pelaku usaha yang mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Di sepanjang proses tersebut, masyarakat sekitar turut memperoleh manfaat melalui kesempatan kerja dan berkembangnya usaha.
Sementara akses layanan keuangan yang semakin dekat turut mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Dari laut, roda ekonomi Pemalang terus bergerak menghidupi nelayan, menggerakkan usaha, menciptakan lapangan kerja, dan membuka peluang pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.***














