Menu

Mode Gelap
NU Tidak Akan Maju dan Modern Jika Politik Uang Masih Membayangi Pemilihan Ketua Umum IKMAL JAYA Akan Gelar Pengajian Umum, Halalbihalal dan Santunan 300 Anak Yatim di Taman Kota Comal Pemkab Pemalang Apresiasi PPID Teraktif 2025, Perumda Air Minum Tirta Mulia Terbaik di Kategori BUMD Rayakan HUT ke-125! Pegadaian Serentak Salurkan Bantuan ke 125 Panti Asuhan, Kanwil Semarang Sasar 10 Lokasi Perumda Air Minum Tirta Mulia Pemalang Droping Air Bersih di Bungin Danasari, Warga Sampaikan Terima Kasih Info Loker! Kospin JASA Buka Lowongan AO Pinjaman/Frontliner, Penempatan Weleri dan Sekitarnya

Opini

NU Tidak Akan Maju dan Modern Jika Politik Uang Masih Membayangi Pemilihan Ketua Umum

badge-check


					Sekretaris Jenderal HIMANU, Taufiq CH Perbesar

Sekretaris Jenderal HIMANU, Taufiq CH

Oleh: Taufik Ch*

WARTA NASIONAL – Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan sulit berkembang menjadi organisasi yang maju dan modern apabila proses pemilihan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar masih dibayangi praktik politik uang.

Ketika proses tersebut mengabaikan kualitas keulamaan yakni kedalaman ilmu agama serta akhlakul karimah, maka potensi kemunduran menjadi sesuatu yang nyata.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa praktik politik uang menjadi penghambat serius bagi kemajuan NU.

Pertama, merusak kredibilitas kepemimpinan. Pemimpin yang terpilih karena kekuatan finansial cenderung kehilangan legitimasi moral. Tidak hanya itu, kapasitas intelektual dan visi kepemimpinannya pun seringkali dipertanyakan. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan tidak progresif dan kurang mampu menjawab tantangan zaman.

Kedua, mengabaikan nilai-nilai inti organisasi. NU dibangun di atas fondasi pesantren, tradisi keilmuan, serta etika Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Praktik politik uang jelas bertentangan dengan prinsip amanah, tabligh, fathanah, dan siddiq nilai-nilai yang seharusnya melekat pada para kiai dan pengurus.

Ketiga, menghambat regenerasi ulama berkualitas. Ketika proses pemilihan lebih ditentukan oleh kekuatan materi, figur-figur yang unggul secara keilmuan dan akhlak berpotensi tersingkir. Kondisi ini tentu menghambat lahirnya kepemimpinan yang sehat dan berkelanjutan, serta menyulitkan NU untuk beradaptasi dengan dinamika modernitas.

Keempat, memicu budaya pragmatis dan koruptif. Politik uang menumbuhkan pola pikir transaksional dan instan. Budaya ini bertolak belakang dengan upaya membangun tata kelola organisasi yang modern, transparan, dan akuntabel.

Sebaliknya, NU memiliki peluang besar untuk menjadi organisasi yang maju dan modern apabila proses pemilihannya mengedepankan kualitas keulamaan dan akhlakul karimah. Kepemimpinan yang lahir dari proses yang bersih akan memiliki kredibilitas, integritas, serta kemampuan inovasi yang kuat.

Dengan demikian, NU dapat tampil sebagai organisasi yang dinamis, adaptif terhadap perubahan, namun tetap kokoh menjaga tradisi keagamaan.

Oleh karena itu, seluruh elemen NU terutama para kiai, pengurus, dan warg perlu bersikap tegas menolak praktik politik uang dalam setiap mekanisme pemilihan. Sudah saatnya tolok ukur kepemimpinan dikembalikan pada kapasitas ilmiah dan integritas moral, bukan pada kekuatan finansial.***

*) Sekretaris Jenderal HIMANU

Baca Lainnya

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

26 Maret 2026 - 12:14 WIB

Tony Rosyid

Lebaran: Beda tapi Bahagia

20 Maret 2026 - 09:56 WIB

Perang Timur Tengah: Momentum Strategis Percepatan Legalisasi Sumur Rakyat di Jateng, Jatim, dan Sumatera

11 Maret 2026 - 23:11 WIB

Perang Timur Tengah: Momentum Strategis Percepatan Legalisasi Sumur Rakyat di Jateng, Jatim, dan Sumatera

Penghubung Komisi Yudisial: Tulang Punggung Pengawasan Etik Hakim di Daerah

11 Maret 2026 - 19:07 WIB

Koordinator Penghubung KY Jateng Muhammad Farhan

Bursa Calon Ketua KONI Pemalang Menghangat, Siapkah Wujudkan Konsep ‘Melaju dengan Prestasi Tanpa Membebani APBD’?

9 Maret 2026 - 19:26 WIB

Untung Budiarso
Trending di Opini