Menu

Mode Gelap
Bagus Sutopo Resmi Dilantik Jadi Sekda Pemalang, Aris Ismail Harapkan Komunikasi Eksekutif-Legislatif Terjaga Bupati Anom Widiyantoro Lantik Bagus Sutopo sebagai Sekda Kabupaten Pemalang Dukung Pemalang Rhapsodi, Aris Ismail Pimpin Korve Jumat Bersih MPC Pemuda Pancasila PDI Perjuangan Pemalang Gelar Pengobatan Gratis dan Dapur Marhaen, Agus Sukoco: Wujud Pengabdian untuk Warga Fahmidh Dhuha Lepas Atlet Taekwondo Pemalang Ikuti Training Tour Yogyakarta, Perkuat Mental Juara Hadiri Apel Gelar Pasukan Satlinmas, Aris Ismail Tekankan Pentingnya Pilkades Aman dan Damai

Opini

Filsafat Politik Cinta

badge-check


					Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag Perbesar

Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag

Oleh: Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag*

WARTA NASIONAL – Serangan yang dilakukan Amerika serikat terhadap ibu kota Venezuela, Caracas, Sabtu dini hari (3/1/2026) dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro telah mengoyak konsep relasi hubungan internasional, kedaulatan negara dan hak asasi manusia.

Peristiwa ini telah memicu reaksi dunia internasional. Dunia mengutuk serangan ini sebagai tindakan kriminal yang dilakukan oleh negara, dan Amerika Serikat dituduh sebagai “terorisme negara”. Serangan tersebut juga telah mempertontonkan tindakan hegemonik Amerika Serikat yang telah melanggar hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan kedaulatan negara.

Agresi yang dilakukan Amerika Serikat ini dan kolonialisme Barat secara umum sesungguhnya merupakan ekspresi dari konsep filsafat politik yang dianut di Barat. Sepanjang tidak ada pembaharuan dalam pandangan filsafat politik Barat ini, maka serangkaian kolonialisme dan agresi militer, ekonomi, maupun budaya akan terus berulang di masa depan

Homo Homini Lupus

Pandangan filsafat politik barat ini sudah lama dikemukakan Thomas Hobbes (1588-1679) dalam karyanya Leviathan. Hobbes menggambarkan manusia sebagai serigala bagi manusia yang lain (homo homini lupus). Manusia digambarkan sebagai musuh yang siap menyerang dan mengeksploitasi satu sama lain. Manusia memiliki insting mendominasi, menguasai sumber daya, dan mengeliminasi pesaing

Akibatnya, relasi kehidupan penuh dengan rasa ketakutan, ketidakpercayaan, dan setiap manusia berpotensi menjadi ancaman bagi manusia yang lain. Dalam situasi seperti itu, maka akan terjadi bellum omnes contra omnima (perang semua melawan semua).

Selanjutnya, homo homini lupus ini juga berpotensi melahirkan relasi hegemonik manusia (negara) atas manusia (negara) lain. Atas nama hegemoni kekuasaan, manusia (negara) dapat saja melakukan legalisasi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Karena itu, HAM berpotensi dilanggar oleh pemegang kekuasaan.

Senada dengan konsep filsafat homo homini lupus, dalam filsafat Barat juga berkembang pandangan si vis bellum para pacem (jika kau mendambakan perdamaian, maka bersiap-siaplah menghadapi perang). Kedua jargon politik ini sesungguhnya memiliki asumsi yang sama, manusia adalah musuh dan ancaman. Akibatnya, banyak negara yang melakukan perlombaan kepemilikan senjata.

Filsafat Politik Cinta

Filsafat politik Barat yang melihat manusia sebagai musuh dan ancaman ini sudah saatnya diubah, agar terjalin tata dunia global yang lebih sejuk, santun dan damai. Cara pandang baru ini diawali dari dasar ontologis yang melihat manusia lain sebagai kawan, mitra dan pemilik bersama planet bumi ini. Karena itu, relasi harmoni perlu dibangun.

Kementerian agama RI sudah mengawali menawarkan konsep peradaban cinta dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan perlu mentradisikan sikap toleransi dalam hablun min Allah (hubungan vertikal-ketuhanan) dan hablun min al-nnas (hubungan horizontal-kemanusiaan). Asumsinya, Islam adalah agama yang menebar kasih sayang (rahmatan lil alamin) bagi semua kalangan. Jika pandangan ini dianut oleh semua negara, maka akan terbangun tata dunia global yang lebih harmoni.

)* Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang

Baca Lainnya

Reminder Penguasa Langit Terhadap Bumi Venezuela

4 Juli 2026 - 11:11 WIB

Keadilan Tuhan Terhadap Perempun yang Hijrah

27 Juni 2026 - 21:11 WIB

Prof. Dr. Hj.Yuyun Affandi,Lc.MA

Jalan Rusak di Pemalang: Bukti Pengingkaran Amanat Konstitusi

10 Juni 2026 - 16:29 WIB

Ilustrasi - Jalan Rusak

Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

13 Mei 2026 - 08:25 WIB

Thaharah Mu’asyirah

Tradisi atau Adat Istiadat Daerah: Mekhadat di Aceh Tenggara

12 Mei 2026 - 14:35 WIB

Sopy Khadijah UIN Sultanah Nahrasiah Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan prodi Tadris Bahasa Indonesia
Trending di Opini