Menu

Mode Gelap
Dua Pelajar SMA Negeri 1 Pemalang Kecelakaan di Belik, Satu Meninggal Dunia Berteduh Saat Hujan, Warga Pemalang Tersambar Petir di Area Pemakaman Jadwal Acara TV Kamis, 14 Mei 2026: INDOSIAR dan SCTV Hadirkan Mega Film Asia hingga FTV Favorit Update! Kode Redeem Free Fire Hari Ini 14 Mei 2026, Klaim Skin Senjata hingga Voucher Diamond Kode Redeem Free Fire Hari Ini, Rabu 13 Mei 2026: Ada Token Gintama hingga Angelic Pants Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

Opini

Makna Hadir: Bukan Soal Seberapa Banyak yang Dilakukan

badge-check


					dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua Perbesar

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Oleh: dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua*

 

WARTANASIONAL.COM – Pernahkah kita merasa tak berguna hanya karena tak bisa berbuat banyak? Ingin membantu, ingin turun tangan, tapi keadaan membuat kita hanya bisa diam? Rasanya seperti kehilangan peran, bukan?

Kita terbiasa mengukur nilai diri dari apa yang bisa kita lakukan. Semakin banyak yang kita lakukan, semakin berarti kita rasanya. Tapi benarkah makna kehadiran hanya diukur dari seberapa banyak tindakan yang kita lakukan?

Hirotada Ototake dalam bukunya No One’s Perfect, mengajarkan bahwa makna hadir tidak selalu tentang aksi besar atau peran utama. Lahir tanpa lengan dan kaki, Ototake menyadari sejak kecil bahwa ada banyak hal yang tidak bisa ia lakukan.

Ia tak bisa berlari, tak bisa memegang sesuatu dengan tangan, bahkan untuk hal-hal kecil pun ia butuh bantuan. Namun, apakah itu membuatnya tidak berarti?

Jawabannya “tidak”

Karena tidak mau terjebak dalam keterbatasannya, Ototake memilih untuk mencari makna lain dalam hidupnya. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang, bukan karena apa yang bisa ia lakukan secara fisik, tetapi karena pemikirannya, semangatnya, dan caranya menjalani hidup. Ia membuktikan bahwa seseorang bisa tetap memiliki arti, bahkan tanpa harus selalu “melakukan” sesuatu dalam arti fisik.

Pelajaran ini seharusnya membuat kita berpikir kembali. Kita sering merasa tidak cukup hanya karena tak bisa melakukan lebih banyak. Padahal, makna hadir bisa datang dalam berbagai bentuk. Terkadang kehadiran kita terasa dari kata-kata yang menguatkan, dari sikap yang menenangkan, atau bahkan dari sekadar keberadaan yang memberi rasa nyaman bagi orang lain.

Saat kita jatuh sakit, ketika tubuh tak bisa bergerak bebas seperti biasa, atau ketika keadaan membuat kita harus berhenti sejenak, kita mulai merasa kehilangan peran. Kita melihat orang-orang di sekitar tetap bergerak, tetap menjalankan kehidupan mereka, dan kita merasa tertinggal. Tapi ingat, tak selamanya peran kita dinilai dari apa yang bisa kita lakukan secara langsung. Kadang, kehadiran kita tetap berarti meski dalam diam.

Mungkin kita tidak bisa membantu secara fisik, tapi kita bisa memberi dukungan dengan pikiran dan perasaan. Mungkin kita tidak bisa selalu hadir dalam setiap perjuangan orang-orang terdekat, tapi selama kita telah meninggalkan jejak makna dalam hidup mereka, keberadaan kita tetap akan dikenang.

Makna hadir bukan soal seberapa banyak yang bisa kita lakukan, tapi seberapa besar dampak yang kita tinggalkan. Seperti yang dilakukan Ototake, kita bisa memilih untuk tetap berarti bahkan dalam keterbatasan. Karena pada akhirnya, kehadiran bukan hanya tentang aksi, tetapi tentang makna yang kita bawa dalam hidup orang lain.

*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital ***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

13 Mei 2026 - 08:25 WIB

Thaharah Mu’asyirah

Tradisi atau Adat Istiadat Daerah: Mekhadat di Aceh Tenggara

12 Mei 2026 - 14:35 WIB

Sopy Khadijah UIN Sultanah Nahrasiah Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan prodi Tadris Bahasa Indonesia

ASN Curang di Brebes: Bupati Jangan Hanya Bisa ‘Geram’

2 Mei 2026 - 15:28 WIB

Aristianto Zamzami

Merawat Identitas di Tanah Rantau: Filosofi “Temu Manten” Masyarakat Transmigran di Atu Lintang

28 April 2026 - 19:27 WIB

Temu Manten

GERD dan Psikosomatis: Keluhan Nyeri Nyata atau dibuat-buat?

24 April 2026 - 08:09 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua
Trending di Opini