Menu

Mode Gelap
Harpelnas 2026, Dirut Perumda Tirta Mulia Pemalang Turun Langsung Temui Pelanggan dari Rumah ke Rumah Sekda Pemalang Soroti Anggaran Perubahan 2026, OPD Diminta Utamakan Program Berdampak Menjaga Denyut Ekonomi Pesisir Pemalang, BRILink Dekatkan Layanan Keuangan di TPI Tanjungsari Semarak Hari Pelanggan Nasional 2026, BRI Unit Taman Hadirkan Pelayanan Bernuansa Budaya Masa Pengabdian Berakhir, KKN MIT Ke-22 Posko 103 Resmi Ditarik dari Desa Karangrowo POPDA Jateng 2026 Cabor Tenis Meja Resmi Dibuka, PTMSI Dorong Lahirnya Atlet Muda Berprestasi

Daerah

Ketua PWI Solo: Pernyataan ‘Londo Ireng’ Berpotensi Timbulkan Stigma terhadap Wartawan

badge-check


					Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato pada Puncak Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis (23/7). Perbesar

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato pada Puncak Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis (23/7).

WARTA NASIONAL – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Solo, Sri Hartanto, menanggapi pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut masih adanya “londo ireng” dan mengaitkannya dengan sebagian wartawan, jurnalis, pengamat, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Menurut Sri Hartanto, pernyataan tersebut berpotensi memunculkan stigma negatif terhadap profesi wartawan dan dapat memengaruhi iklim kebebasan pers di Indonesia.

“Kerja jurnalistik yang berlandaskan fakta dan data di lapangan tidak dapat dimaknai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negara ataupun kepentingan asing (‘londo ireng’),” ujar Sri Hartanto, pada Jumat (24/7).

Ia menjelaskan, sikap kritis media terhadap berbagai kebijakan pemerintah, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Koperasi Desa Merah Putih, hingga berbagai persoalan hukum, ekonomi, sosial, dan isu publik lainnya merupakan bagian dari fungsi kontrol pers.

Menurutnya, kritik yang disampaikan media bertujuan agar penyelenggaraan pemerintahan berjalan lebih baik, bukan sebagai bentuk pengabdian kepada kepentingan asing.

“Kami menilai retorika yang mengaitkan kritik media dengan istilah ‘antek asing’ maupun ‘londo ireng’ dikhawatirkan dapat membentuk persepsi keliru di tengah masyarakat terhadap profesi wartawan,” katanya.

Sri Hartanto mengingatkan, apabila narasi tersebut terus berkembang, masyarakat bisa saja memandang wartawan sebagai pihak yang memusuhi negara atau bahkan dianggap sebagai pengkhianat.

“Jika logika seperti ini terus dimasifkan, masyarakat bisa menganggap tugas wartawan sebagai sesuatu yang jahat atau bertentangan dengan kepentingan bangsa. Kondisi itu berpotensi meningkatkan ancaman terhadap keselamatan jurnalis dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.

Ia berharap Presiden sebagai kepala negara dapat melihat peran pers secara lebih proporsional.

“Presiden semestinya melihat tugas jurnalistik secara jernih, cerdas, dan elegan. Pers bukan musuh pemerintah, tetapi mitra demokrasi yang menjalankan fungsi kontrol sesuai amanat Undang-Undang Pers,” tegasnya.

Pernyataan Presiden

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato pada Puncak Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis (23/7).

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan istilah “londo ireng”, yang pada masa kolonial merujuk kepada pribumi yang membantu penjajah, menurutnya masih dapat dijumpai hingga saat ini.

“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone-mu siapa?” kata Prabowo.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menyoroti pemberitaan media yang dinilainya lebih banyak mengangkat sekolah-sekolah yang belum diperbaiki dibandingkan ribuan sekolah yang telah direnovasi pemerintah.

Prabowo menyebut pemerintah telah memperbaiki sekitar 67.000 bangunan sekolah dan menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 100.000 sekolah pada tahun depan. Ia menegaskan pemerintah tidak antikritik, namun menginginkan kritik disampaikan secara proporsional.

“Kita negara demokrasi. Kita tidak antikritik. Tapi kita bukan anak kecil,” ujar Presiden.***

Baca Lainnya

Sekda Pemalang Soroti Anggaran Perubahan 2026, OPD Diminta Utamakan Program Berdampak

7 September 2026 - 12:37 WIB

Semarak Hari Pelanggan Nasional 2026, BRI Unit Taman Hadirkan Pelayanan Bernuansa Budaya

4 September 2026 - 15:02 WIB

Semarak Hari Pelanggan Nasional 2026, BRI Unit Taman Hadirkan Pelayanan Bernuansa Budaya

Wakil Ketua DPRD Pemalang Aris Ismail Soroti Keluhan Atlet POPDA, Minta Hak Peserta Dipastikan

2 September 2026 - 14:44 WIB

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pemalang H. Aris Ismail, SAP

Pilkades Danasari 2026: Lima Bakal Calon Sudah Serahkan Berkas Pendaftaran

1 September 2026 - 20:05 WIB

Ratusan Warga Wanarejan Selatan Ikuti Jalan Sehat HUT ke-81 RI, Ini Pesan Plt Bupati Pemalang

30 Agustus 2026 - 15:10 WIB

Trending di Daerah