Menu

Mode Gelap
Usai Viral Surat Berkop Kelurahan Mulyoharjo Pemalang Minta Bingkisan Lebaran, Lurah Minta Maaf dan Tarik Surat Viral! Surat Berkop Kelurahan Mulyoharjo Pemalang Minta Bantuan Bingkisan Lebaran, Ini Tanggapan Warganet 7 Amalan Utama di Bulan Ramadan, Pastikan Melakukannya agar Pahala Berlipat Ganda Insantara Sebut 14 Nama Berpeluang Pimpin PBNU Periode Berikutnya Ekonomi Jadi Isu Paling Mendesak di Tengah Tingginya Kepuasan Publik terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa 3 Ramadan 1447 Hijriah, Sabtu 21 Februari 2026 di Kabupaten Pemalang dan Sekitarnya

Opini

Energi Masyarakat yang Terkuras oleh Kebijakan Pemerintah Daerah

badge-check


					Ketua Yayasan Institut Agama Islam Pemalang, Heri Perbesar

Ketua Yayasan Institut Agama Islam Pemalang, Heri

Oleh : Heriyanto* 

WARTA NASIONAL – Sering kali pemerintah daerah mengumumkan kebijakan baru, masyarakat berharap ada angin segar. Namun yang disuguhkan justru mengundang badai. Bukan badai hujan, melainkan badai aturan, pungutan, dan prosedur yang menguras tenaga, pikiran, dan kantong rakyat.

Alih-alih membebaskan warga untuk berkreasi, banyak kebijakan malah membingungkan. Pelaku usaha kecil harus berjibaku mengurus izin yang berubah-ubah. Petani dipusingkan oleh program bantuan yang datang dengan syarat rumit dan data yang sering kali tidak akurat. Warga kota pun tak luput dalam himpitan retribusi parkir, pajak daerah, hingga denda yang datang tanpa peringatan.

Ironisnya, semua ini dibungkus rapi dengan jargon: “Demi pembangunan daerah.” Padahal yang dibangun sering kali hanya gedung megah, bukan kesejahteraan. Yang diperkuat justru birokrasi, tidak dengan ekonomi rakyat.

Masyarakat seolah sedang diperas energinya untuk menopang mesin kebijakan yang boros dan tak efisien. Mereka berlari, tapi di atas mesin treadmill: keringat bercucuran, namun tak pernah maju.

Wes wayae Baca : Sudah saatnya pemerintah daerah berhenti membuat kebijakan dari balik meja dan mulai melihat dari mata warga yang tergilas dampaknya. Dengarkan keluh kesah mereka, libatkan mereka sejak awal, dan ciptakan aturan yang memudahkan, bukan memeras.

Energi rakyat bukanlah sumber daya yang bisa dipakai sesuka hati. Sekali habis, yang tersisa hanyalah keletihan massal dan itu adalah awal dari runtuhnya kepercayaan.

Ongkos politik memang mahal. Oleh sebab itu beragam aturan dan pembangunan tak tepat sasaran sering jadi alasan, tentu semua sudah menjadi rahasia umum karena Bohir sudah menunggu jatah kapan balikin modal. Masyarakat harus berani hentikan politik buta hanya karena rupiah musiman yang membawa kesengsaraan berkepanjangan.

*) Ketua Yayasan Institut Agama Islam Pemalang ***

Baca Lainnya

Tren Positif dan Tantangan Pesantren Tahfidz MAJT-Baznas

8 Februari 2026 - 16:41 WIB

Isdiyanto Isman

Refleksi Pasca Rajaban: Berapa Jumlah Muslimin yang Shalat 5 Waktu

31 Januari 2026 - 14:39 WIB

Masrifan Djamil

Pemilu Bukan Pesta Demokrasi

20 Januari 2026 - 13:17 WIB

Masrifan Djamil

Kritik Ekoteologi terhadap Proses Desakralisasi Alam

17 Januari 2026 - 08:39 WIB

Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag

Belajar, Bekerja, dan Mengajar di Tengah Dunia Maya: Untuk Apa Kita Hadir?

10 Januari 2026 - 08:48 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua
Trending di Opini