Menu

Mode Gelap
BRI Peduli Aspal Jalan Dusun Benteng, Beragam Manfaat Langsung Dirasakan Warga Desa Wanarata Pemalang Percasi dan Kodim 0711/Pemalang Bakal Gelar Turnamen Catur Dandim Cup 2026, Catat Tanggalnya! Haflah Maulidurrasul 1448 H di MAJT, Ribuan Jemaah Larut dalam Lantunan Salawat Fahmidh Dhuha Soroti Wacana “Percepatan Sejarah”, Minta Elite Politik Hormati Konstitusi RSU Siaga Medika Pemalang Buka Rekrutmen Staf HRD, Pendaftaran Ditutup 29 Agustus 2026 Ketum PTMSI Jateng Silaturahmi ke Bupati Jepara, Bangun Sinergitas untuk Peningkatan Prestasi Atlet Tenis Meja

Opini

Laki-laki dan Potensi Imamnya

badge-check


					Lukman Hakim,S.H.I.,M.H Perbesar

Lukman Hakim,S.H.I.,M.H

Oleh: Lukman Hakim,S.H.I.,M.H.

WARTA NASIONAL – Dalam kehidupan bersosial maupun kehidupan berkeluarga, laki-laki dan potensi imamnya sebenarnya bukan dibentuk oleh budaya maupun adat istiadatnya. Meski paradigma patriarkhi –juga khususnya di jawa – dalam sepanjang sejarah kodifikasi fiqh sunny dan sistem masyarakat umum yang membentuknya seperti di indonesia cukup established dan sangat kental.

Dan hanya di beberapa daerah saja di indonesia yang menganut paham Matrilineal, yang kemudian bisa saja peran laki-laki menjadi subordinat perempuan. Atau paling tidak peran laki-laki tidak dianggap berada di depan dibanding perempuan.

Karena susunan hormon tubuhnya yang menampakkan kekar. Dari simbol jambang, kumis, jenggot dan ototnya di badan menunjukkan karakter laki-laki lebih terlihat kuat secara simbolik. Serta cara berfikir mereka yang tidak mengandalkan banyak perasaannya, menjadi lebih menonjolkan karakter imam ataupun pemimpin yang karena perpaduan akal dan rasa begitu seimbang. Sehingga, ketika mereka beradaptasi dengan budaya di lingkungannya, bukan malah kontradiktif. Namun begitu mudahnya diterima sebagai simbol pemimpin.

Terbukti, ketika dalam sistem perkawinan seorang laki-laki dengan mudahnya diterima berada di depan untuk memimpin bahtera rumah tangga. Juga dalam potensi tanggung jawab secara umum, berada di depan pula. Bahkan dalam sistem yang linier dengan perkawinan, – yakni kewarisan – menempati posisi yang hampir sama. Sehingga wajar, jika laki-laki berada pada urutan nomor satu dalam rumah tangga di semua tanggung jawabnya.

Hal ini, tanpa menepis sistem modern pada masyarakat urban. Yang peran laki-laki dan wanita menempati posisi sama dalam tanggung jawab terhadap keluarganya. Karena, banyaknya wanita karier pada masyarakat modern, yang memberi peluang terhadap kaum wanita untuk sama-sama menopang kehidupan rumah tangga.

Namun faktor kodrati, menempatkan keduanya tidak pernah sama – atau dalam batasan minimalnya tidak terganggu-, di mana kondisi ini patut kita akui bersama. Seperti tanggung jawab full yang dibebankan kepada laki-laki akan berbeda kepada perempuan yang disebabkan oleh faktor seperti masa kehamilan, masa menyusui juga masa haidh yang terkadang memotong presensi kerja maupun aktivitas ibadah. Ini harus disadari, jika semua faktor tadi tidak menjadikan sama perannya saat berada di publik, bukan domestik.

Sehingga mengharuskan perempuan, – dengan masa-masanya tadi – untuk berhenti sejenak dari kerumitan publik kemudian focus bidang domestik seperti memelihara anak, dengan segala kompleksitasnya dari masa merawat saat kecil, melalui kasih sayangnya secara langsung sampai harus mengamati perkembangan psikologi anak yang tertumpu secara dominan pada seorang perempuan yang berposisi sebagai ibu.

Maka, tidak perlu heran jika laki-laki jauh mempunyai keleluasaan waktu di kehidupan sosial, lapangan kerja, juga mengatur secara umum kehidupan berumah tangga. Dan, tidak perlu heran pula jika seorang laki-laki patut menjadi imam shalat, karena tidak adanya faktor kodrati yang menghalangi tadi [yakni haidl dan hamil]. Meski, peran laki-laki bukan berarti menjadikannya superior atau merasa paling hebat, dan merasa paling kuat di atas perempuan.

Sebab, ada banyak contoh di masyarakat modern bahwa peran laki-laki dalam bidang kerja bisa saja kalah prestasi dengan kaum perempuan. Khususnya yang berkaitan dengan sistem akuntansi, tanggung jawab secara prinsip juga rasa disiplin dan ulet yang terkadang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki secara baik.

Namun karena watak dasarnya laki-laki yang dibawa oleh faktor kodrati, biasanya laki-laki jika diremehkan jauh merasa lebih tersinggung. Apalagi jika ia dinomor duakan dalam semua hal, ia akan banyak berontak. Bahkan masalah hatipun, jika ia dinomor duakan pasti akan merasa sangat tersakiti. Ini secara konseptual yang menjadi potensi secara tidak langsung dari laki-laki sebagai simbol pemimpin atau imam.

*) Guru Bahasa Arab MTs Negeri 1 Pemalang

Baca Lainnya

Ketika Kampus Negeri Tersandung, Kemana Jatidiri UNSOED (JDU)?

24 Agustus 2026 - 08:53 WIB

Rumah Sakit dan Dua Matahari: Memahami Birokrasi Profesional dan Dual Leadership

22 Agustus 2026 - 11:19 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Hakim Sejahtera, Peradilan Berintegritas: Menguatkan Komisi Yudisial dan Penghubung KY di Daerah

12 Agustus 2026 - 12:38 WIB

Koordinator Penghubung KY Jateng Muhammad Farhan

Reminder Penguasa Langit Terhadap Bumi Venezuela

4 Juli 2026 - 11:11 WIB

Keadilan Tuhan Terhadap Perempun yang Hijrah

27 Juni 2026 - 21:11 WIB

Prof. Dr. Hj.Yuyun Affandi,Lc.MA
Trending di Opini