Menu

Mode Gelap
Pererat Silaturahmi, PB Moga Jalani Laga Persahabatan Tandang ke PB UNDIP Semarang Gus Harun Apresiasi Muhammadiyah Jateng Luncurkan Hutan Wakaf Agroforestri di Pemalang Peringati HUT ke-53, Ketua DPC PDI Perjuangan Pemalang Sampaikan Pesan dan Harapannya Belajar, Bekerja, dan Mengajar di Tengah Dunia Maya: Untuk Apa Kita Hadir? Filsafat Politik Cinta Selama Nataru 2026, Antusiasme Masyarakat terhadap Serambi MyPertamina Tercatat Tinggi

Opini

Laki-laki dan Potensi Imamnya

badge-check


					Lukman Hakim,S.H.I.,M.H Perbesar

Lukman Hakim,S.H.I.,M.H

Oleh: Lukman Hakim,S.H.I.,M.H.

WARTA NASIONAL – Dalam kehidupan bersosial maupun kehidupan berkeluarga, laki-laki dan potensi imamnya sebenarnya bukan dibentuk oleh budaya maupun adat istiadatnya. Meski paradigma patriarkhi –juga khususnya di jawa – dalam sepanjang sejarah kodifikasi fiqh sunny dan sistem masyarakat umum yang membentuknya seperti di indonesia cukup established dan sangat kental.

Dan hanya di beberapa daerah saja di indonesia yang menganut paham Matrilineal, yang kemudian bisa saja peran laki-laki menjadi subordinat perempuan. Atau paling tidak peran laki-laki tidak dianggap berada di depan dibanding perempuan.

Karena susunan hormon tubuhnya yang menampakkan kekar. Dari simbol jambang, kumis, jenggot dan ototnya di badan menunjukkan karakter laki-laki lebih terlihat kuat secara simbolik. Serta cara berfikir mereka yang tidak mengandalkan banyak perasaannya, menjadi lebih menonjolkan karakter imam ataupun pemimpin yang karena perpaduan akal dan rasa begitu seimbang. Sehingga, ketika mereka beradaptasi dengan budaya di lingkungannya, bukan malah kontradiktif. Namun begitu mudahnya diterima sebagai simbol pemimpin.

Terbukti, ketika dalam sistem perkawinan seorang laki-laki dengan mudahnya diterima berada di depan untuk memimpin bahtera rumah tangga. Juga dalam potensi tanggung jawab secara umum, berada di depan pula. Bahkan dalam sistem yang linier dengan perkawinan, – yakni kewarisan – menempati posisi yang hampir sama. Sehingga wajar, jika laki-laki berada pada urutan nomor satu dalam rumah tangga di semua tanggung jawabnya.

Hal ini, tanpa menepis sistem modern pada masyarakat urban. Yang peran laki-laki dan wanita menempati posisi sama dalam tanggung jawab terhadap keluarganya. Karena, banyaknya wanita karier pada masyarakat modern, yang memberi peluang terhadap kaum wanita untuk sama-sama menopang kehidupan rumah tangga.

Namun faktor kodrati, menempatkan keduanya tidak pernah sama – atau dalam batasan minimalnya tidak terganggu-, di mana kondisi ini patut kita akui bersama. Seperti tanggung jawab full yang dibebankan kepada laki-laki akan berbeda kepada perempuan yang disebabkan oleh faktor seperti masa kehamilan, masa menyusui juga masa haidh yang terkadang memotong presensi kerja maupun aktivitas ibadah. Ini harus disadari, jika semua faktor tadi tidak menjadikan sama perannya saat berada di publik, bukan domestik.

Sehingga mengharuskan perempuan, – dengan masa-masanya tadi – untuk berhenti sejenak dari kerumitan publik kemudian focus bidang domestik seperti memelihara anak, dengan segala kompleksitasnya dari masa merawat saat kecil, melalui kasih sayangnya secara langsung sampai harus mengamati perkembangan psikologi anak yang tertumpu secara dominan pada seorang perempuan yang berposisi sebagai ibu.

Maka, tidak perlu heran jika laki-laki jauh mempunyai keleluasaan waktu di kehidupan sosial, lapangan kerja, juga mengatur secara umum kehidupan berumah tangga. Dan, tidak perlu heran pula jika seorang laki-laki patut menjadi imam shalat, karena tidak adanya faktor kodrati yang menghalangi tadi [yakni haidl dan hamil]. Meski, peran laki-laki bukan berarti menjadikannya superior atau merasa paling hebat, dan merasa paling kuat di atas perempuan.

Sebab, ada banyak contoh di masyarakat modern bahwa peran laki-laki dalam bidang kerja bisa saja kalah prestasi dengan kaum perempuan. Khususnya yang berkaitan dengan sistem akuntansi, tanggung jawab secara prinsip juga rasa disiplin dan ulet yang terkadang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki secara baik.

Namun karena watak dasarnya laki-laki yang dibawa oleh faktor kodrati, biasanya laki-laki jika diremehkan jauh merasa lebih tersinggung. Apalagi jika ia dinomor duakan dalam semua hal, ia akan banyak berontak. Bahkan masalah hatipun, jika ia dinomor duakan pasti akan merasa sangat tersakiti. Ini secara konseptual yang menjadi potensi secara tidak langsung dari laki-laki sebagai simbol pemimpin atau imam.

*) Guru Bahasa Arab MTs Negeri 1 Pemalang

Baca Lainnya

Belajar, Bekerja, dan Mengajar di Tengah Dunia Maya: Untuk Apa Kita Hadir?

10 Januari 2026 - 08:48 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Filsafat Politik Cinta

8 Januari 2026 - 14:44 WIB

Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag

Ibu Profesional, Anak Fenomenal: Antara  Teks dan Konteks 

22 Desember 2025 - 10:46 WIB

Prof. Dr. Hj.Yuyun Affandi, Lc. MA

Generasi Zombi dan Tanggung Jawab Orang Tua

18 Desember 2025 - 17:02 WIB

Nur Kholis

Momentum Hari Disabilitas Internasional 2025, Tantangan dan Hambatan Penyandang Disabilitas

3 Desember 2025 - 10:38 WIB

Untung Budiarso
Trending di Opini
error: Content is protected !!