Menu

Mode Gelap
Menjaga Marwah KONI: Aditya Padmanaba Tekankan Integritas dan Inklusivitas dalam Penjaringan Ketua Umum BRI BO Pemalang Berbagi Kebahagiaan Ramadan dengan Anak Yatim dan Dhuafa BRI Imbau Nasabah Waspada Modus Penipuan File .APK di WhatsApp Jelang Libur Lebaran 2026 Tiga Bakal Calon Ketua Umum KONI Pemalang 2026-2030 Sudah Kembalikan Formulir, TPP Mulai Verifikasi Berkas Jelang Idulfitri, Pertamina Salurkan Tambahan 9 Juta Tabung LPG 3 Kg di Jateng dan DIY Muh Haris Ucapkan Selamat Hari Jadi ke-505 Kabupaten Semarang, Dorong Sinergi dan Kolaborasi Pembangunan

Opini

Perlukah Kita Berani Mencoba Tantangan agar Sadar Kita Butuh Tuhan?

badge-check


					dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua Perbesar

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Oleh : dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

WARTA NASIONAL – Kadang hidup berjalan datar. Aman, tenang, tak ada gejolak. Tapi di balik itu, diam-diam kita merasa hambar. Tidak ada yang salah, tapi juga tidak ada yang benar-benar menggugah. Di titik itulah sering kali kita lupa: bahwa kedekatan dengan Tuhan bukan sekadar rutinitas, tapi kesadaran. Dan kesadaran itu… sering lahir dari tantangan.

Lalu muncul pertanyaan: perlukah kita mencoba tantangan agar sadar kita butuh Tuhan?

Tidak semua orang suka tantangan. Sebagian dari kita justru menghindar. Takut gagal. Takut sakit. Takut kecewa. Tapi justru dari pengalaman-pengalaman itulah hati kita belajar. Tantangan ibarat kaca pembesar—ia memperjelas apa yang selama ini samar. Dan salah satu yang seringkali jadi jelas adalah: kita ini ternyata lemah, rapuh, dan sangat butuh sandaran. Di sanalah kesadaran itu muncul—kita butuh Tuhan.

Seorang bijak pernah bilang: “Kadang Allah tidak mengubah keadaan kita dulu, tapi mengguncang hati kita agar kita ingin berubah.” Nah, guncangan itu sering datang dalam bentuk tantangan. Ketika rencana tak sesuai harapan. Ketika orang yang kita andalkan pergi. Ketika kita gagal padahal sudah berusaha. Di situlah kita berhenti sejenak, menunduk, dan menyadari… kita tak bisa sendiri.

Dalam budaya Jawa, ada ungkapan: “Gusti ora sare.” Tuhan tidak pernah tidur. Tapi kadang kitalah yang tidur dalam kenyamanan. Maka sesekali tantangan hadir bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membangunkan.

Buku When Things Fall Apart karya Pema Chödrön bicara banyak tentang bagaimana justru dari kehancuran hidup, manusia bisa menemukan kekuatan spiritual. Ketika semua pegangan dunia runtuh, yang tersisa hanya satu: keyakinan pada sesuatu yang lebih besar. Di titik nadir itulah banyak orang mulai menemukan Tuhan bukan lewat teori, tapi lewat pengalaman jiwa yang personal dan dalam.

Kita bisa menyimak kisah Nabi Ibrahim, yang hidupnya tidak lepas dari tantangan besar—meninggalkan rumah, meninggalkan anak, bahkan diperintahkan menyembelih putra tercinta. Tapi lewat semua itu, ia justru semakin dekat dengan Tuhan, bahkan dijadikan kekasih-Nya. Artinya, tantangan bukan untuk menyiksa, tapi untuk menyucikan.

Maka pertanyaannya bukan lagi “perlukah tantangan?” Tapi, “beranikah kita menghadapinya sebagai jalan untuk mendekat?” Sebab tanpa keberanian mencoba, kita mungkin akan terus terjebak dalam rasa cukup yang palsu. Tapi ketika kita berani melangkah, kita akan bertemu dengan banyak hal—termasuk kelemahan kita sendiri—dan dari sanalah tumbuh kebutuhan yang jujur untuk bersandar kepada Tuhan.

Jadi, jawabannya: perlu. Bahkan sangat perlu. Bukan karena Tuhan butuh kita mendekat, tapi karena kitalah yang sesungguhnya sangat butuh didekatkan.

*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital ***

Baca Lainnya

Perang Timur Tengah: Momentum Strategis Percepatan Legalisasi Sumur Rakyat di Jateng, Jatim, dan Sumatera

11 Maret 2026 - 23:11 WIB

Perang Timur Tengah: Momentum Strategis Percepatan Legalisasi Sumur Rakyat di Jateng, Jatim, dan Sumatera

Penghubung Komisi Yudisial: Tulang Punggung Pengawasan Etik Hakim di Daerah

11 Maret 2026 - 19:07 WIB

Koordinator Penghubung KY Jateng Muhammad Farhan

Bursa Calon Ketua KONI Pemalang Menghangat, Siapkah Wujudkan Konsep ‘Melaju dengan Prestasi Tanpa Membebani APBD’?

9 Maret 2026 - 19:26 WIB

Untung Budiarso

Tren Positif dan Tantangan Pesantren Tahfidz MAJT-Baznas

8 Februari 2026 - 16:41 WIB

Isdiyanto Isman

Refleksi Pasca Rajaban: Berapa Jumlah Muslimin yang Shalat 5 Waktu

31 Januari 2026 - 14:39 WIB

Masrifan Djamil
Trending di Opini