Menu

Mode Gelap
FDK UIN Walisongo Bahas Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Emas 2045 Perumda Tirta Mulia Pemalang Perbaiki Pipa Bocor di Sirandu, Ini Wilayah Terdampak Pemilu: Dari Partisipatif Menuju Pragmatis, Benarkah ‘Ora Ono Duit Ora Nyoblos’? Kasus Anom Widiyantoro, KPK Panggil Mantan Kadisdikpora Supa’at dan Eks Dirut Perumda Tirta Mulia Slamet Efendi INFO LOKER! Kospin Jasa Buka Lowongan Kerja Kasir Keliling, Penempatan Pemalang dan Sekitarnya Harpelnas 2026, Dirut Perumda Tirta Mulia Pemalang Turun Langsung Temui Pelanggan dari Rumah ke Rumah

Opini

Perlukah Kita Berani Mencoba Tantangan agar Sadar Kita Butuh Tuhan?

badge-check


					dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua Perbesar

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Oleh : dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

WARTA NASIONAL – Kadang hidup berjalan datar. Aman, tenang, tak ada gejolak. Tapi di balik itu, diam-diam kita merasa hambar. Tidak ada yang salah, tapi juga tidak ada yang benar-benar menggugah. Di titik itulah sering kali kita lupa: bahwa kedekatan dengan Tuhan bukan sekadar rutinitas, tapi kesadaran. Dan kesadaran itu… sering lahir dari tantangan.

Lalu muncul pertanyaan: perlukah kita mencoba tantangan agar sadar kita butuh Tuhan?

Tidak semua orang suka tantangan. Sebagian dari kita justru menghindar. Takut gagal. Takut sakit. Takut kecewa. Tapi justru dari pengalaman-pengalaman itulah hati kita belajar. Tantangan ibarat kaca pembesar—ia memperjelas apa yang selama ini samar. Dan salah satu yang seringkali jadi jelas adalah: kita ini ternyata lemah, rapuh, dan sangat butuh sandaran. Di sanalah kesadaran itu muncul—kita butuh Tuhan.

Seorang bijak pernah bilang: “Kadang Allah tidak mengubah keadaan kita dulu, tapi mengguncang hati kita agar kita ingin berubah.” Nah, guncangan itu sering datang dalam bentuk tantangan. Ketika rencana tak sesuai harapan. Ketika orang yang kita andalkan pergi. Ketika kita gagal padahal sudah berusaha. Di situlah kita berhenti sejenak, menunduk, dan menyadari… kita tak bisa sendiri.

Dalam budaya Jawa, ada ungkapan: “Gusti ora sare.” Tuhan tidak pernah tidur. Tapi kadang kitalah yang tidur dalam kenyamanan. Maka sesekali tantangan hadir bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membangunkan.

Buku When Things Fall Apart karya Pema Chödrön bicara banyak tentang bagaimana justru dari kehancuran hidup, manusia bisa menemukan kekuatan spiritual. Ketika semua pegangan dunia runtuh, yang tersisa hanya satu: keyakinan pada sesuatu yang lebih besar. Di titik nadir itulah banyak orang mulai menemukan Tuhan bukan lewat teori, tapi lewat pengalaman jiwa yang personal dan dalam.

Kita bisa menyimak kisah Nabi Ibrahim, yang hidupnya tidak lepas dari tantangan besar—meninggalkan rumah, meninggalkan anak, bahkan diperintahkan menyembelih putra tercinta. Tapi lewat semua itu, ia justru semakin dekat dengan Tuhan, bahkan dijadikan kekasih-Nya. Artinya, tantangan bukan untuk menyiksa, tapi untuk menyucikan.

Maka pertanyaannya bukan lagi “perlukah tantangan?” Tapi, “beranikah kita menghadapinya sebagai jalan untuk mendekat?” Sebab tanpa keberanian mencoba, kita mungkin akan terus terjebak dalam rasa cukup yang palsu. Tapi ketika kita berani melangkah, kita akan bertemu dengan banyak hal—termasuk kelemahan kita sendiri—dan dari sanalah tumbuh kebutuhan yang jujur untuk bersandar kepada Tuhan.

Jadi, jawabannya: perlu. Bahkan sangat perlu. Bukan karena Tuhan butuh kita mendekat, tapi karena kitalah yang sesungguhnya sangat butuh didekatkan.

*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital ***

Baca Lainnya

Pemilu: Dari Partisipatif Menuju Pragmatis, Benarkah ‘Ora Ono Duit Ora Nyoblos’?

14 September 2026 - 09:26 WIB

Ketika Kampus Negeri Tersandung, Kemana Jatidiri UNSOED (JDU)?

24 Agustus 2026 - 08:53 WIB

Rumah Sakit dan Dua Matahari: Memahami Birokrasi Profesional dan Dual Leadership

22 Agustus 2026 - 11:19 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Hakim Sejahtera, Peradilan Berintegritas: Menguatkan Komisi Yudisial dan Penghubung KY di Daerah

12 Agustus 2026 - 12:38 WIB

Koordinator Penghubung KY Jateng Muhammad Farhan

Reminder Penguasa Langit Terhadap Bumi Venezuela

4 Juli 2026 - 11:11 WIB

Trending di Opini