Menu

Mode Gelap
Hadiri Apel Gelar Pasukan Satlinmas, Aris Ismail Tekankan Pentingnya Pilkades Aman dan Damai Catat! Daftar Hari Penting Bulan Juli 2026, Ada Hari Anak Nasional hingga Hari Bhayangkara Reminder Penguasa Langit Terhadap Bumi Venezuela Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Kanwil XI Semarang Khitan Massal 229 Anak Paripurna DPRD Pemalang Diwarnai Kejanggalan, Pandangan Umum Fraksi PKB Dibacakan Wakil Ketua DPRD Wakil Ketua DPRD Pemalang Aris Ismail Ucapkan Selamat HUT ke-80 Bhayangkara, Dukung Polri Semakin Dekat dengan Masyarakat

Opini

Perlukah Kita Berani Mencoba Tantangan agar Sadar Kita Butuh Tuhan?

badge-check


					dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua Perbesar

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Oleh : dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

WARTA NASIONAL – Kadang hidup berjalan datar. Aman, tenang, tak ada gejolak. Tapi di balik itu, diam-diam kita merasa hambar. Tidak ada yang salah, tapi juga tidak ada yang benar-benar menggugah. Di titik itulah sering kali kita lupa: bahwa kedekatan dengan Tuhan bukan sekadar rutinitas, tapi kesadaran. Dan kesadaran itu… sering lahir dari tantangan.

Lalu muncul pertanyaan: perlukah kita mencoba tantangan agar sadar kita butuh Tuhan?

Tidak semua orang suka tantangan. Sebagian dari kita justru menghindar. Takut gagal. Takut sakit. Takut kecewa. Tapi justru dari pengalaman-pengalaman itulah hati kita belajar. Tantangan ibarat kaca pembesar—ia memperjelas apa yang selama ini samar. Dan salah satu yang seringkali jadi jelas adalah: kita ini ternyata lemah, rapuh, dan sangat butuh sandaran. Di sanalah kesadaran itu muncul—kita butuh Tuhan.

Seorang bijak pernah bilang: “Kadang Allah tidak mengubah keadaan kita dulu, tapi mengguncang hati kita agar kita ingin berubah.” Nah, guncangan itu sering datang dalam bentuk tantangan. Ketika rencana tak sesuai harapan. Ketika orang yang kita andalkan pergi. Ketika kita gagal padahal sudah berusaha. Di situlah kita berhenti sejenak, menunduk, dan menyadari… kita tak bisa sendiri.

Dalam budaya Jawa, ada ungkapan: “Gusti ora sare.” Tuhan tidak pernah tidur. Tapi kadang kitalah yang tidur dalam kenyamanan. Maka sesekali tantangan hadir bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membangunkan.

Buku When Things Fall Apart karya Pema Chödrön bicara banyak tentang bagaimana justru dari kehancuran hidup, manusia bisa menemukan kekuatan spiritual. Ketika semua pegangan dunia runtuh, yang tersisa hanya satu: keyakinan pada sesuatu yang lebih besar. Di titik nadir itulah banyak orang mulai menemukan Tuhan bukan lewat teori, tapi lewat pengalaman jiwa yang personal dan dalam.

Kita bisa menyimak kisah Nabi Ibrahim, yang hidupnya tidak lepas dari tantangan besar—meninggalkan rumah, meninggalkan anak, bahkan diperintahkan menyembelih putra tercinta. Tapi lewat semua itu, ia justru semakin dekat dengan Tuhan, bahkan dijadikan kekasih-Nya. Artinya, tantangan bukan untuk menyiksa, tapi untuk menyucikan.

Maka pertanyaannya bukan lagi “perlukah tantangan?” Tapi, “beranikah kita menghadapinya sebagai jalan untuk mendekat?” Sebab tanpa keberanian mencoba, kita mungkin akan terus terjebak dalam rasa cukup yang palsu. Tapi ketika kita berani melangkah, kita akan bertemu dengan banyak hal—termasuk kelemahan kita sendiri—dan dari sanalah tumbuh kebutuhan yang jujur untuk bersandar kepada Tuhan.

Jadi, jawabannya: perlu. Bahkan sangat perlu. Bukan karena Tuhan butuh kita mendekat, tapi karena kitalah yang sesungguhnya sangat butuh didekatkan.

*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital ***

Baca Lainnya

Reminder Penguasa Langit Terhadap Bumi Venezuela

4 Juli 2026 - 11:11 WIB

Keadilan Tuhan Terhadap Perempun yang Hijrah

27 Juni 2026 - 21:11 WIB

Prof. Dr. Hj.Yuyun Affandi,Lc.MA

Jalan Rusak di Pemalang: Bukti Pengingkaran Amanat Konstitusi

10 Juni 2026 - 16:29 WIB

Ilustrasi - Jalan Rusak

Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

13 Mei 2026 - 08:25 WIB

Thaharah Mu’asyirah

Tradisi atau Adat Istiadat Daerah: Mekhadat di Aceh Tenggara

12 Mei 2026 - 14:35 WIB

Sopy Khadijah UIN Sultanah Nahrasiah Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan prodi Tadris Bahasa Indonesia
Trending di Opini