Menu

Mode Gelap
Musancab PDI Perjuangan Pemalang 2026 Digelar Serentak, Indianto Tekankan Soliditas dan Target Tambah Kursi DPRD Pegadaian Resmikan Outlet Agen “Empire Koi Muria” di Kudus, Dekatkan Layanan Keuangan ke Masyarakat Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg di Jateng-DIY Jelang Idul Adha, Masyarakat Diminta Tak Panik Kode Redeem Free Fire Terbaru Senin 25 Mei 2026: Klaim Token Gintama, Diamond hingga Bundle Eksklusif Hj Umi Surotud Diniyah SE Sosok Perempuan Inspiratif yang Aktif Berdayakan Perempuan, UMKM dan Kegiatan Sosial di Jateng Dugaan Abuse of Power dalam Mutasi Guru di Pemalang Jadi Sorotan, Untung Budiarso: Dinilai Langgar AUPB

Opini

Perlukah Kita Berani Mencoba Tantangan agar Sadar Kita Butuh Tuhan?

badge-check


					dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua Perbesar

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Oleh : dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

WARTA NASIONAL – Kadang hidup berjalan datar. Aman, tenang, tak ada gejolak. Tapi di balik itu, diam-diam kita merasa hambar. Tidak ada yang salah, tapi juga tidak ada yang benar-benar menggugah. Di titik itulah sering kali kita lupa: bahwa kedekatan dengan Tuhan bukan sekadar rutinitas, tapi kesadaran. Dan kesadaran itu… sering lahir dari tantangan.

Lalu muncul pertanyaan: perlukah kita mencoba tantangan agar sadar kita butuh Tuhan?

Tidak semua orang suka tantangan. Sebagian dari kita justru menghindar. Takut gagal. Takut sakit. Takut kecewa. Tapi justru dari pengalaman-pengalaman itulah hati kita belajar. Tantangan ibarat kaca pembesar—ia memperjelas apa yang selama ini samar. Dan salah satu yang seringkali jadi jelas adalah: kita ini ternyata lemah, rapuh, dan sangat butuh sandaran. Di sanalah kesadaran itu muncul—kita butuh Tuhan.

Seorang bijak pernah bilang: “Kadang Allah tidak mengubah keadaan kita dulu, tapi mengguncang hati kita agar kita ingin berubah.” Nah, guncangan itu sering datang dalam bentuk tantangan. Ketika rencana tak sesuai harapan. Ketika orang yang kita andalkan pergi. Ketika kita gagal padahal sudah berusaha. Di situlah kita berhenti sejenak, menunduk, dan menyadari… kita tak bisa sendiri.

Dalam budaya Jawa, ada ungkapan: “Gusti ora sare.” Tuhan tidak pernah tidur. Tapi kadang kitalah yang tidur dalam kenyamanan. Maka sesekali tantangan hadir bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk membangunkan.

Buku When Things Fall Apart karya Pema Chödrön bicara banyak tentang bagaimana justru dari kehancuran hidup, manusia bisa menemukan kekuatan spiritual. Ketika semua pegangan dunia runtuh, yang tersisa hanya satu: keyakinan pada sesuatu yang lebih besar. Di titik nadir itulah banyak orang mulai menemukan Tuhan bukan lewat teori, tapi lewat pengalaman jiwa yang personal dan dalam.

Kita bisa menyimak kisah Nabi Ibrahim, yang hidupnya tidak lepas dari tantangan besar—meninggalkan rumah, meninggalkan anak, bahkan diperintahkan menyembelih putra tercinta. Tapi lewat semua itu, ia justru semakin dekat dengan Tuhan, bahkan dijadikan kekasih-Nya. Artinya, tantangan bukan untuk menyiksa, tapi untuk menyucikan.

Maka pertanyaannya bukan lagi “perlukah tantangan?” Tapi, “beranikah kita menghadapinya sebagai jalan untuk mendekat?” Sebab tanpa keberanian mencoba, kita mungkin akan terus terjebak dalam rasa cukup yang palsu. Tapi ketika kita berani melangkah, kita akan bertemu dengan banyak hal—termasuk kelemahan kita sendiri—dan dari sanalah tumbuh kebutuhan yang jujur untuk bersandar kepada Tuhan.

Jadi, jawabannya: perlu. Bahkan sangat perlu. Bukan karena Tuhan butuh kita mendekat, tapi karena kitalah yang sesungguhnya sangat butuh didekatkan.

*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital ***

Baca Lainnya

Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

13 Mei 2026 - 08:25 WIB

Thaharah Mu’asyirah

Tradisi atau Adat Istiadat Daerah: Mekhadat di Aceh Tenggara

12 Mei 2026 - 14:35 WIB

Sopy Khadijah UIN Sultanah Nahrasiah Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan prodi Tadris Bahasa Indonesia

ASN Curang di Brebes: Bupati Jangan Hanya Bisa ‘Geram’

2 Mei 2026 - 15:28 WIB

Aristianto Zamzami

Merawat Identitas di Tanah Rantau: Filosofi “Temu Manten” Masyarakat Transmigran di Atu Lintang

28 April 2026 - 19:27 WIB

Temu Manten

GERD dan Psikosomatis: Keluhan Nyeri Nyata atau dibuat-buat?

24 April 2026 - 08:09 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua
Trending di Opini