Menu

Mode Gelap
DA Peduli dan Golkar Pemalang Salurkan 318.500 Liter Air Bersih untuk Warga Pulosari, Bantarbolang dan Belik PTMSI Jateng dan Udinus Matangkan Persiapan POPDA, GOR Satria Siap Digunakan PTMSI Jateng Tiada Henti Perkuat Pembinaan Atlet Tenis Meja di Jawa Tengah HUT RI ke-81, Pertamina Patra Niaga Gelar Tebus Murah Sembako di 7 SPBU Jateng-DIY Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Muh Haris Ajak Masyarakat Siapkan Generasi Indonesia Emas 2045 600 Kader PDI Perjuangan Petarukan Dilantik Jadi Pengurus Ranting dan Anak Ranting

Opini

Menakar Kembali Arti Pemimpin yang Mendapat Naungan

badge-check


					dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua Perbesar

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Oleh : dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

WARTA NASIONAL – Apakah kita juga seorang pemimpin?

Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, “apakah aku seorang pemimpin?”
Banyak dari kita mungkin spontan menjawab,”BUKAN”.
Aku bukan kepala dinas, bukan direktur, bukan orang yang punya jabatan penting.”
Tapi benarkah kepemimpinan hanya dimiliki oleh mereka yang duduk di kursi tinggi?

Ada hadis Nabi yang menegaskan bahwa setiap kita adalah pemimpin, Kullukum Ra’in Wakullukum mas’ulun ‘an Ra’iyyatihi Sesungguhnya setiap kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.

Ada pepatah bijak dalam falsafah Jawa, Sapa mikul dhuwur, mendhem jero. Barangsiapa yang memikul kehormatan dan memendam aib sesamanya dialah pemimpin yang memuliakan. Artinya kepemimpinan tak diukur dari kewenangan, tetapi dari kehalusan budi dan kebesaran jiwa.

Seorang ibu rumah tangga yang sabar membesarkan anak-anaknya adalah pemimpin. Seorang staf yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjaga semangat timnya, juga pemimpin. Teman yang menjadi pendengar yang baik dan penguat bagi yang mulai lelah, dia pun sedang menjalankan kepemimpinan sejati.

Kepemimpinan bukanlah cuma soal posisi melainkan tentang pengaruh yang menumbuhkan. Bukan tentang siapa yang harus tunduk pada kita tapi tentang siapa yang bisa tumbuh karena kehadiran kita.

Sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib pernah berkata
“Nilai seseorang tergantung pada apa yang ia lakukan dengan ilmunya.”
Kepemimpinan adalah bagaimana kita menggunakan pengetahuan dan pengalaman kita untuk membimbing, menguatkan dan memanusiakan orang lain.

John C. Maxwell mengatakan dalam The 5 Levels of Leadership,
People follow you because of what you have done for them.
Artinya orang akan mengikuti bukan karena jabatan tetapi karena dampak nyata yang kita berikan dalam hidup mereka.

Peter Drucker juga pernah menyampaikan
The best way to predict the future is to create it
Menggapai masa depan bukan hanya dengan rencana besar semata tapi dengan tindakan kecil yang membangkitkan orang-orang di sekitar kita.

Mari kita mulai menjadi pemimpin dengan melakukan tindakan sederhana, mendengar dengan empati, memberi contoh yang baik, menyemangati yang lelah, dan menyatukan yang tercerai.

Karena pemimpin sejati tidak dilahirkan oleh struktur tapi oleh keberanian untuk bertanggung jawab dan kesediaan untuk mengangkat yang lain bersama dirinya.

Pepatah Jawa mengatakan Ajining dhiri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana. Maka kepemimpinan sejati dibangun dari tutur yang meneduhkan dan laku yang memuliakan.

Dan jika kita menanamkan niat baik dalam memimpin walau dalam ruang kecil sekalipun insyaAllah ada tempat istimewa yang Allah janjikan yaitu naungan pada hari yang tidak ada naungan selain dari-Nya.

Semoga kita semua termasuk dalam golongan itu.

*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital ***

Baca Lainnya

Hakim Sejahtera, Peradilan Berintegritas: Menguatkan Komisi Yudisial dan Penghubung KY di Daerah

12 Agustus 2026 - 12:38 WIB

Koordinator Penghubung KY Jateng Muhammad Farhan

Reminder Penguasa Langit Terhadap Bumi Venezuela

4 Juli 2026 - 11:11 WIB

Keadilan Tuhan Terhadap Perempun yang Hijrah

27 Juni 2026 - 21:11 WIB

Prof. Dr. Hj.Yuyun Affandi,Lc.MA

Jalan Rusak di Pemalang: Bukti Pengingkaran Amanat Konstitusi

10 Juni 2026 - 16:29 WIB

Ilustrasi - Jalan Rusak

Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

13 Mei 2026 - 08:25 WIB

Thaharah Mu’asyirah
Trending di Opini