Menu

Mode Gelap
Hadiri Rakor Bahas Kondusifitas Nataru 2025, Bupati Anom: Pemkab Pemalang Siap Ikuti Arahan Provinsi Jateng Purnel FC Suradadi Juara NCM Open Sugihwaras 2025, Ini Pesan Bupati Anom Bupati Anom Sebut Peran Mubalighat Aisyiyah Sangat Strategis dalam Penyampaian Ajaran Islam Politisi PKB Sambut Baik Raperda Pembentukan Dana Cadangan Pilkada 2029 Resmi Diluncurkan Program Z-Coffee dan BMM, BAZNAS Bakal Canangkan 1.300 Zmart di Jawa Tengah Gabung UNGC, KAI Hadirkan Layanan Transportasi Publik yang Aman, Inklusif dan Rendah Emisi

Pendidikan

Dosen Psikologi Tanggapi soal Anak Ditolak Masuk Sekolah di Pemalang karena Dinilai Hiperaktif

badge-check


					Dosen Psikologi Tanggapi soal Anak Ditolak Masuk Sekolah di Pemalang karena Dinilai Hiperaktif Perbesar

WARTA NASIONAL – Dosen Psikologi dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang Agustin Handayani, S.Psi, M.Si, menanggapi kasus seorang anak yang ditolak masuk sekolah di Kabupaten Pemalang.

Penolakan tersebut kepada anak yang akan mendaftar di SDIT Buah Hati Pemalang karena dinilai hiperaktif, sehingga hal itu menuai respon tanggapan dari berbagai pihak.

Menurut Agustin bahwa di dalam Standar Pendidikan Nasional dalam PP No. 17 tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan.

Pada asal 66 ayat yakni program pembelajaran TK / RA dan bentuk lain yang sederajat dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki SD, MI atau bentuk lain yang sederajat

Program pembelajaran TK / RA dan bentuk lain sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain yang dapat dikelompokkan menjadi : a) bermain dalam rangka pembelajaran agama dan akhlak mulia, b) bermain dalam pembelajaran sosial dan kepribadian, c) bermain dalam rangka pembelajaran orientasi dan pengenalan pengetahuan dan teknologi, d) bermain dalam rangka pembelajaran estetika dan e) bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olah raga dan kesehatan.

“Dampaknya adanya perbedaan makna dari usia menunjukkan perbedaan fungsional kemampuan anak baik secara emosional, bahasa, perilaku, motorik bahkan beragama sekalipun,” katanya.

Disebutkan, batasan pengertian anak dari perkembangan usia dapat ditinjau dari berbagai aspek baik fisik bahkan psikis. Menurut Sumadi Suryabrata bahwa anak usia dini adalah usia 0 – 7 tahun dapat disebut anak masa kecil atau masa bermain. Usia 7 – 14 tahun disebut masa kanak-kanak aatau disebut dengan masa belajar atau masa sekolah rendah.

Adanya perbedaan faktor usia sebagaimana dijelaskan di atas, dapat menunjukkan perbedaan karakter seorang anak bahkan usia juga dapat menunjukkan perbedaan kemampuan. Berpangkal dari faktor tersebut itulah para pendidik wajib memahami secara mendalam fase-fase perkembangan anak.

Dengan memahami perkembangan anak diharapkan guru dapat mengerti tentang karakteristik seorang anak baik secara personal, emosional, kepribadian, agama dan bahkan semua persoalan anak apalagi bagi anak yang mulai memasuki awal sekolah jelas memiliki ciri khas tersendiri dalam segala hal.

Ciri khas tersebut diantaranya terletak dalam bermain meskipun perkembangan anak dalam permainan secara umum memperlihatkan tingkah laku yang sama tetapi dalam cara bermainnya yang terkait dengan aspek kepribadian tertentu sosok seorang anak dapat berbeda antara satu dengan yang lain.

Perbedaan cara inilah yang seringkali menimbulkan perbedaan pandangan orang pada umumnya.

Seperti sikap egosentrisme atau sikap mementingkan diri sendiri yang ada pada kepribadian seorang anak yang dalam pandangan orang dewasa kadang-kadang menunjukkan sesuatu yang negatif padahal secara ilmiah sikap itu tidak memperlihatkan sesuatu yang negatif apapun pada kehidupan seorang anak karena egosentrisme pada seorang anak merupakan suatu proses pekembangan yang normal.

Untuk itulah peran seorang guru menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan seorang anak untuk mengarahkan pada pendidikan dengan proses yang benar.

Dari proses pendidikan itu diharapkan struktur perilaku kompleks pada seorang anak dapat ditumbuhkan dan diarahkan menjadi baik sehingga seorang anak dapat berkembang dalam kehidupan yang dijalani sesuai dengan proses kehidupan secara ilmiah dan benar.

Maka dari itu kewajiban orangtua, orang dewasa lainnya khususnya guru dapat menyediakan kemungkinan – kemungkinan yang optimal bagi perkembangan kepribadian seorang anak baik di rumah maupun di sekolah atau bahkan di masyarakat.

Karakteristik Perilaku Hiperaktif Anak

Mengacu penjelasan di atas dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan dalam bermain seorang anak menampilkan perilaku bermainnya dengan beragam cara seperti ada yang pendiam, ada yang aktif dan ada pula yang super aktif hingga hiperaktif.

“Perilaku bermain tersebut dapat ditampilkan di rumah dan di luar rumah seperti sekolah,” ujarnya.

Mengacu dari beberapa macam pola ekspresi berperilaku atau bermain seorang anak seperti tersebut di atas, perilaku hiperaktif menjadi perhatian khusus terutama pada guru.

“Hal ini terjadi karena anak-anak hiperaktif menunjukkan perilaku yang berbeda dengan perilaku anak pada umumnya,” imbuhnya.

Orangtua yang tidak mengerti tentang hal tersebut bahkan para gurupun yang tidak punya wawasan yang cukup tentang hal tersebut sering galau bahkan bingung menghadapi anak tersebut bagaimana pola dan cara yang tepat dalam menangani anak hiperaktif, yang sejatinya perlu dipahami juga oleh orangtua dan guru bahwa anak hiperaktif adalah seperti kebanyakan anak yang lain.

Hiperaktif dalam kepribadian dan perilaku seorang anak bukanlah merupakan penyakit melainkan suatu gejala atau symptoms berupa tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan oleh disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian.

Dengan mengetahui kondisi anak yang hiperaktif sejatinya dapat dijadikan sebagai sarana untuk menjadikan anak tersebut lebih maju daripada yang lain melalui pemberian intervensi terapi farmakologi yang dikombinasikan denga modifikasi perilaku atau terapi perilaku.

Menambahkan bahwa hiperaktif dalam kepribadian seorang anak bukanlah merupakan sesuatu yang aneh, tidak mengejutkan, bukan pula penyakit hanya saja hal tersebut terjadi karena adanya gangguan tingkah laku yang bisa disembuhkan melalui terapi modifikasi perilaku.

“Agar anak hiperaktif lebih dapat berkonsentrasi dan fokus pada apa yang dikerjakan sehingga tidak menghalangi seorang anak hiperaktif untuk mendapatkan pembelajaran yang sama dengan teman-teman meraka yang lain,” pungkasnya. ***

 

 

Baca Lainnya

Ikatan Sarjana Pemalang Sayangkan Adanya Kasus Anak Ditolak Masuk Sekolah karena Dinilai Hiperaktif

5 November 2025 - 14:18 WIB

Koordinator Formatur ISP, Desky Danu Aji

Praktisi Hukum Kecam Penolakan Anak Hiperaktif Masuk SD di Pemalang: Tindakan Diskriminatif dan Langgar Hak Konstitusional Anak

5 November 2025 - 08:22 WIB

praktisi hukum dan akademisi, Dr.(c) Imam Subiyanto, S.H., M.H., CPM

Seorang Anak di Pemalang Ditolak Masuk SD karena Dinilai Hiperaktif, Orang Tua Pertanyakan Kebijakan Sekolah

4 November 2025 - 21:23 WIB

Yoannes Cup XXIII 2025, Ajang Bentuk Bangun Karakter Siswa

20 Oktober 2025 - 15:21 WIB

Hadiri Wisuda ITB ADIAS, Bupati Anom Dukung Penuh Kemajuan Pendidikan di Pemalang

25 September 2025 - 11:57 WIB

Hadiri Wisuda ITB ADIAS, Bupati Anom Dukung Penuh Kemajuan Pendidikan di Pemalang
Trending di Pendidikan