Menu

Mode Gelap
Pemilu Bukan Pesta Demokrasi Jadwal Acara TV SCTV dan Indosiar, Selasa 20 Januari 2026: Ada Tayangan Beri Cinta Waktu dan D’ Academy 7 Perkuat Peran Sosial dan Ekonomi Masyarakat, KAI Salurkan Dana TJSL Senilai Rp32,24 Miliar di 2025 KAI Sebut Jalur Hulu Pekalongan–Sragi Kembali Dapat Dilalui, Kecepatan KA Terbatas Genangan Air di Petak Pekalongan–Sragi, KAI Berlakukan Rekayasa Pola Operasi Kritik Ekoteologi terhadap Proses Desakralisasi Alam

Opini

Pemilu Bukan Pesta Demokrasi

badge-check


					Masrifan Djamil Perbesar

Masrifan Djamil

Oleh: Masrifan Djamil*

WARTA NASIONAL – Pemilu itu peristiwa dahsyat. Rakyat pemilih yang berjumlah 204.807.222 orang, dari jumlah 284.438.800 penduduk Indonesia, masak tidak cerdas dalam memilih? Silakan dinilai sendiri hasil pilihan mereka.

PEMILU itu dilaksanakan oleh 5 orang, yang disebut KPU, diawasi 5 orang juga disebut BAWASLU. Mereka instan dipilih, lalu kerja raksasa. Pengalaman atau tidak pengalaman, tidak masalah, sah dipilih, pokoknya jalan. Muda ya katanya bagus. Di akhir-akhir ini disoal juga bagaimana mereka memverifikasi ijazah dan mengumpulkan serta menyimpan data? Tiba-tiba ada yang jadi kaya mendadak, rumah dan pendoponya bak Bupati. Lalu ada yang pacaran dan tidur bersama dengan wanita idaman lain. Satu yang konangan. Semoga memang hanya satu itu.

Pemilih yang jumlahnya dua ratus juta lebih memang untuk DPR RI, milih yang dikenal, karena hanya 3 – 4 kab/kota satu DAPIL. Tetapi mereka lupa ilmu Umar bin Khottob RA khalifah setelah Abu Bakar. Ada beberapa orang datang menghadap mengusulkan seseorang menjadi Gubernur. Khalifah bertanya 3 soal:

  1. Apakah kamu tetangganya?
  2. Apakah kamu pernah bersafar (jalan bareng) selama 3 hari 3 malam?
  3. Apakah kamu pernah berdagang (berbisnis) dengan calonmu itu?

Ini ilmu yang hebat untuk memilih. Tetangga akan tahu depan belakang seseorang, suka bohong apa tidak, jamaah ke masjid apa tidak, ada KDRT apa tidak. Bagaimana hidupnya? Mewah atau sederhana. Bagaimana anak-anaknya? Dididik ataua diabaikan, dst semua tergambar dengan jelas. No 2 dan 3 sama, kualitas orang tergambar dari aktivitas itu, terutama kejujuran dan amanahnya.

Apa Hakekat Pemilu?

PEMILU itu event dahsyat, penting, serius, taruhannya kelangsungan negeri kita, tampaknya hanya utk waktu 5-10 tahun (boleh 2 periode), tetapi untuk memilih apa, siapa, apa pengaruhnya dalam hidup pemilih dan keluarganya (yang di bawah umur, tidak termasuk pemilih ada 79.631.578 orang) masih belum paham.

“Apa sih, terlalu banyak teori, yang penting mana uangnya”, itu kata nyata bukan khayalan penulis. “Kasih lah kami sedikit, kalau rapat ada makanan, minuman dan rokok, pulang kami dapat uang transport. Yang besar dikit lah. *Toh nanti kalau bosmu sudah di Senayan, ngrampoknya lebih besar*”, kata-kata kasar dan vulgar sebagian rakyat kita yang sudah teracuni, PEMILU adalah PESTA DEMOKRASI. *Calon yang baik pasti membagi uang, itu bloboh, itu murah hati, kelak kalau jadi, pasti mbaginya uang lebih besar. Kalau ga ngasih sekarang, itu ga niat nyalon, pelit*.

Dan mereka keliru. Mereka hanya terima dikit, yang terpilih di PEMILU terbentuk persepsi masyarakat, akan menghabiskan trilyunan kekayaan rakyat Indonesia. Pasti di dalam diri Legislatif, Eksekutif dan Judikatif ada yang tidak demikian, namun sayangnya sepertinya tidak berbuat banyak untuk memperbaiki Indonesia. Maka di situasi ditemukannya koruptor kelas T, lahirlah pejabat menjadi bintang medsos dan layar kaca, karena aksi-aksinya yang sefrekuensi dengan dambaan rakyat.

Iman Taqwa Akan Menuntun Kepada Sejahtera Karena Antara Lain Sifat Amanah

Tanpa umat yg pinter, takut kepada Allah (tidak berbuat maksiyat alias Iman dan Taqwa) Indonesia akan jadi mangsa para pencuri kelas gajah atau kakap besar atau hiu raksasa atau paus. Mereka dengan rakusnya makan ikan yang lebih kecil, tanaman, ga peduli kerusakan yang ditimbulkannya.

Kalau hewan tadi berujud manusia, dia besarkan perutnya, dia makan apa saja, bahkan aspal “diuntal” (bahasa Jawa), halal haram ga peduli, maka ia terus menerus menipu rakyat al dengan KORUPSI karena berkuasa dan kolektif kekuatannya dan saling melindunginya.

Mereka berpesta pora tiap hari, naik mobil mewah ganti², bahkan dikawal foraiders, di tiap kota besar punya rumah mewah, punya kartu kredit unlimitted, kl lelaki ada yang terbukti punya simpanan lain, WIL artis atau lainnya.

Anda semua rakyat PEMILIH cuma dapat 200-500ribu tiap kali PESTA DEMOKRASI. Di PILKADES terpantau 1 orang dapat 800.000 rupiah, tentu menghasilkan KADES yang nganu……………….

Tapi……..rakyat susah nyekolahin anak di sekolah menengah atas dan PT, susah cari kerja, pajak ini dan itu sudah bayar. Ini di negeri sendiri. Kl kerja di luar negeri, moralnya rusak, zina itu tidak masalah (lha disana bertahun-tahun, jangan nipu hasrat manusia lah), omongannya kacau, meledek dirinya sendiri yang penuh dosa dengan guyon yang saru (saya dengar dari sekelompok TKW yang pulang di dalam pesawat), keluarganya hancur. Meskipun uangnya rada banyak. Ya rada saja…..tp nggak sampai kaya…..

Mari simak tv atau Google, berapa itu kekayaan seorang wamen yang ketangkap KPK. Ya Cuma WAMEN, punya MOGE ducati lebih dari satu, belinya satu unit hampir semilyar. Moge dan mobil mewah untuk dipandang-pandang atau dikendarai kalau sempat.

Pemilu Masih Lama, Tetapi Cuma 4 Tahun Ya, Tahun 2029

Wahai rakyat yang kemarin menerima amplop receh dan memilih, ga peduli siapa dia asal ngasihnya gede. Masih nggak kapok kah nanti 2029?. Indonesia makin berantakan kl Anda, rakyat pemilih masih ga mau belajar dan iman taqwa. Sadar sudah salah, sudah taubat, kembali ke IMTAQ dan…… Ayo bangkit.

Edukasi rakyat tentang ABCD PEMILU, menghasilkan apa, KEKUASAANNYA APA, apa pengaruhnya kepada pemilih dan keluarganya (yang saat pemilu belum punya hak pilih hampir 80juta orang), secara masif, sistematis dan  terstruktur. Edukasi jangan mau dituduh berpolitik. Edukasi ya buat pinter rakyat sebagai pemilih cerdas, cari tokoh yg amanah, dan benar-benar mengabdi.

Contohnya KHALIFAH ABU BAKAR ASH-SHIDFIQ, UMAR BIN KHOTTOB, UTSMAN BIN AFFAN, ALI BIN ABU THOLIB dan UMAR BIN ABDUL AZIS, rodhilyallahu ‘anhum. Kaya ketika masuk, miskin ketika selesai. Bukan sebaliknya.

)* doktor ilmu kedokteran, dokter (dari Universitas Diponegoro; magister Public Health dari University of the Philippines (MPH); magsiter manajemen RS dari Universitas Gajahmada – MMR); Muballigh.***

 

Baca Lainnya

Kritik Ekoteologi terhadap Proses Desakralisasi Alam

17 Januari 2026 - 08:39 WIB

Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag

Belajar, Bekerja, dan Mengajar di Tengah Dunia Maya: Untuk Apa Kita Hadir?

10 Januari 2026 - 08:48 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Filsafat Politik Cinta

8 Januari 2026 - 14:44 WIB

Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag

Ibu Profesional, Anak Fenomenal: Antara  Teks dan Konteks 

22 Desember 2025 - 10:46 WIB

Prof. Dr. Hj.Yuyun Affandi, Lc. MA

Generasi Zombi dan Tanggung Jawab Orang Tua

18 Desember 2025 - 17:02 WIB

Nur Kholis
Trending di Opini