Oleh: dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua*
WARTA NASIONAL – Pernahkah kita bertanya, mengapa rumah sakit tidak bisa dipimpin seperti kantor pemerintahan biasa atau sebuah pabrik? Direktur memang berada di puncak organisasi, tetapi Direktur tidak menentukan obat apa yang harus diberikan kepada pasien atau bagaimana seorang dokter melakukan operasi.
Henry Mintzberg menjelaskan rumah sakit sebagai Professional Bureaucracy atau Birokrasi Profesional. Dalam organisasi seperti ini, kekuatan tidak hanya berada pada jabatan struktural. Kekuatan juga berada pada para profesional dokter, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya—karena merekalah yang memiliki kompetensi untuk mengambil keputusan dalam pelayanan pasien.
Di pabrik, atasan dapat menentukan proses kerja secara rinci dan bawahan melaksanakannya. Di rumah sakit tidak sesederhana itu. Dokter mengambil keputusan berdasarkan ilmu, kompetensi, standar profesi, pengalaman, dan kondisi pasien. Karena itu, menurut Mintzberg, rumah sakit lebih banyak bekerja melalui standardisasi kompetensi, bukan sekadar standardisasi perintah.
Contoh menarik adalah Mayo Clinic di Amerika Serikat dengan prinsip terkenalnya, “The needs of the patient come first.” Dokter dari berbagai spesialisasi bekerja bersama perawat, farmasi, laboratorium, dan profesi lainnya sebagai satu tim. Kepemimpinan tetap kuat, tetapi tujuannya bukan menguasai keputusan profesional, melainkan membangun sistem agar berbagai keahlian dapat bekerja bersama untuk pasien.
Dari sinilah muncul karakter lain rumah sakit: dual leadership atau kepemimpinan ganda
Ada kepemimpinan manajerial yang mengurus organisasi, SDM, anggaran, sarana, regulasi, dan keberlanjutan rumah sakit. Di sisi lain terdapat kepemimpinan klinis, yang menjaga mutu profesi, kewenangan klinis, keselamatan pasien, dan keputusan pelayanan.
Keduanya bukan dua matahari yang harus saling berebut kekuasaan. Keduanya justru harus menjadi dua sisi kepemimpinan yang saling melengkapi.
Pada RSUD situasinya bahkan lebih kompleks. Rumah sakit hidup dalam dua dunia: birokrasi pemerintahan dan profesionalisme pelayanan kesehatan.
Administrasi membutuhkan kepatuhan terhadap aturan, sedangkan pelayanan membutuhkan ruang bagi pertimbangan profesional.
Karena itu, Direktur rumah sakit yang kuat bukanlah Direktur yang mengambil semua keputusan. Ia adalah pemimpin yang mampu menyatukan manajemen dan klinisi, aturan dan profesionalisme, efisiensi dan mutu, serta kepentingan organisasi dan kepentingan pasien.
Pada akhirnya, rumah sakit tidak membutuhkan semakin banyak perintah. Rumah sakit membutuhkan semakin banyak kolaborasi.
Semarang, 22 Agustus 2026
*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital















