WARTA NASIONAL – Nama Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA mencuat sebagai kandidat terkuat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah periode 2026-2031 menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI MUI Jawa Tengah yang akan digelar di Bandungan, Kabupaten Semarang.
Dukungan terhadap sosok yang saat ini dikenal sebagai salah satu tokoh ulama nasional tersebut terus mengalir dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Pengalamannya memimpin sejumlah lembaga strategis dinilai menjadi modal kuat untuk melanjutkan kepemimpinan MUI Jawa Tengah setelah masa bakti Ahmad Darodji berakhir.
Sekretaris Umum MUI Jawa Tengah sekaligus Ketua Panitia Musda XI, KH Muhyiddin, mengungkapkan bahwa hingga menjelang pelaksanaan Musda, nama Prof KH Noor Achmad menjadi figur yang paling banyak diperbincangkan sebagai calon ketua umum.
“Nama beliau yang paling sering muncul dalam pembicaraan menjelang Musda. Namun keputusan akhir tetap akan ditentukan melalui mekanisme organisasi dalam forum Musda,” ujar KH Muhyiddin.
Meski demikian, ia menegaskan proses pemilihan tetap mengedepankan musyawarah dan ketentuan organisasi yang berlaku. Dinamika dalam forum Musda masih memungkinkan munculnya nama-nama lain sebelum proses pemilihan dilaksanakan.
Dukungan serupa disampaikan Ketua MUI Kabupaten Pati, Abdul Karim. Menurutnya, Noor Achmad merupakan figur yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan jaringan luas, baik di tingkat daerah maupun nasional.
“Beliau memiliki pengalaman memimpin berbagai lembaga dan organisasi besar. Kapasitas kepemimpinannya sudah teruji, sehingga sangat layak untuk memimpin MUI Jawa Tengah ke depan,” katanya.
Abdul Karim berharap kepemimpinan MUI Jawa Tengah ke depan mampu memperkuat peran ulama dalam membimbing umat sekaligus menjaga harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selain agenda pemilihan kepengurusan baru, Musda XI MUI Jawa Tengah juga akan menjadi momentum refleksi perjalanan organisasi melalui peluncuran dua buku penting, yakni “Pitutur Kiai Darodji” dan “Kumpulan Fatwa dan Tausiyah MUI Jawa Tengah Tahun 2005-2026”.
Kedua buku tersebut memuat berbagai pemikiran, pandangan keagamaan, serta rekomendasi ulama yang telah menjadi bagian dari perjalanan MUI Jawa Tengah selama lebih dari dua dekade.
Kehadirannya diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat, akademisi, maupun para pemangku kebijakan dalam menghadapi berbagai persoalan keumatan, kebangsaan, dan sosial kemasyarakatan.
Musda XI MUI Jawa Tengah sendiri dipandang sebagai momentum strategis untuk memperkuat peran organisasi ulama sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dan shadiqul hukumah (mitra pemerintah) dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat di era yang terus berkembang.***















