Menu

Mode Gelap
Ketum PWI Pusat Akhmad Munir Bakal Lantik Pengurus PWI Jateng Periode 2025-2030 pada Selasa 2 Desember 2025 Anggota Komisi VII DPR Yoyok Dorong Anak Muda Kembangkan Kewirausahaan saat Reses di Pemalang Senator DPD RI Abdul Kholik Dukung Penerapan Enam Hari Sekolah di Jateng Pemalang Perkuat Budaya Ramah Anak di Sekolah Lewat ‘My Day, My Rights’ Genjot PAD 2026, Sekda Sebut Pemprov Jateng Telah Siapkan Strategi Dinilai Miliki Kiprah Luar Biasa, Dr Muhtar Said Terima Penghargaan dari Fakultas Hukum UNNES

Opini

Tabayyun, Klarifikasi, Konfirmasi Cek Ulang Kebenaran Suatu Info

badge-check


					Masrifan Djamil Perbesar

Masrifan Djamil

Oleh: Masrifan Djamil*

WARTA NASIONAL – Di dunia ini banyak kejadian, lebih banyak negatif bahkan banjir darah bermula dari salah informasi, distorsi informasi, salah komunikasi, buruknya komunikasi dan lain-lain (dll).

Ada kisah dahsyat dimana kerajaan Mataram Surakarta yang jadi legenda menjadi nama suatu desa dimana dulu saya bekerja, Desa Sigaluh, Kecamatan Sigaluh Kab Banjarnegara. Kata sahibul hikayat, sigaluh berasal dari sega (nasi, bahasa lokalnya sega) yang ditetesi air mata (luh – bahasa Jawa). Mengapa sampai terjadi musibah besar itu?

Jawabnya karena salah komunikasi. Ini ceritanya: Bupati Banyumas saat itu menginduk ke Mataram Surakarta Hadiningrat, suatu hari mengirim “glondong pengareng-areng” (hantaran) untuk Raja Surakarta, berupa beberapa gerobak hasil bumi dan lain-lain. Ada juga seorang putri yang dipersembahkan kepada sang Raja, untuk menjadi selir raja sebagai tanda setia.

Semua hantaran diterima oleh Raja, namun karena suatu hal, putri diminta dibawa pulang, alias dipulangkan, karena berdasarkan informasi intelijen, ada yang tidak beres dalam rombongan putri dan punggawanya (para pelayannya), membahayakan istana. Raja juga mengutus pengawal yang siap melakukan eksekusi bila di perjalanan ada gejala perlawanan dan pembangkangan dari rombongan.

Dalam kurun waktu perjalanan dari Solo dengan kendaraan kuda dan gerobak menuju Banyumas, di istana terjadi berbagai kesibukan untuk membahas info intelijen itu. Akhirnya sang raja menemukan kebenaran, bahwa berita adanya usaha makar melalui pengiriman putri Tumenggung Banyumas adalah fitnah dari pihak yang tidak senang dengan kedekatan sang Tumenggung dengan Raja.

Maka raja mengutus pasukan gerak cepat untuk menjemput kembali sang putri dan rombongannya, untuk dibawa kembali ke Surakarta dan pesan untuk meminta maaf kepada Tumenggung. Rombongan itu harus bergegas, jangan sampai rombongan sang putri sudah keburu sampai di Banyumas.

Rombongan sang putri dari Banyumas sampai di desa di tepi sungai Serayu, sekitar 8 Km dari Kota Banjarnegara. Rupanya para pengawal yang diutus mengantar kepulangan sang putri, diantaranya ada yang membocorkan rahasia kenapa sang putri dipulangkan, dan dikawal pula, serta menunggu perintah raja untuk eksekusi di perjalanan. Timbullah ketegangan di desa itu, walaupun ada kegembiraan dengan prosesi menjamu tamu dengan makan siang yang lengkap.

Rombongan sedang dijamu Kepala Desanya dan para tokoh masyarakat berkumpul bersuka-cita karena rombongan Banyumas berkenan singgah di desa itu. Tiba-tiba datang rombongan kedua berkuda dengan kencang dari istana Raja Surakarta. Setelah kelihatan dekat, mereka mengacung-acungkan keris dan teriak-teriak, “Batalkan eksekusi….”. Karena bercampur dengan deru sepatu kuda yang berlari kencang, isyarat itu dan teriakan itu menjadi kurang jelas, namun diartikan sebagai perintah eksekusi.

Maka para pengawal yang dari istana solo dibantu para tokoh setempat yang setia kepada Raja, mengeksekusi semua pasukan rombongan termasuk sang putri. Darah berhamburan dari tikaman keris dan golok. Namun setelah rombongan kedua sampai, tafsiran salah sudah kadung dilakukan. Eksekusi rombongan pertama.

Pemimpin rombongan kedua dengan gugup dan terbata-bata menyampaikan bahwa perintah Raja adalah batalkan eksekusi. Pecahlah tangis yang hadir, bercucuranlah air mata yang sedang menikmati hidangan, jatuh di atas nasi di depannya. Nasi (sega) ditetesi air mata, air mata adalah luh. Maka jadilah SEGALUH, lama-lama menjadi SIGALUH. Ini legenda yang saya serap ketika bertugas disana, jika keliru-keliru nama atau beda dengan kisah yg benar, mohon tidak dibahas, karena intinya, salah komunikasi (misscommunication) bisa berakibat fatal.

ISLAM ADALAH AGAMA SUPERMODERN, DAN AGAMA SOLUSI

Islam adalah agama supermodern, mendahulukan pikiran jernih dan cerdas, jauhkan emosi. Check and recheck apa saja informasi yang masuk ke dalam diri kita, jangan keburu bertindak, jangan keburu berkata, yang justru salah, karena inputnya salah, analisa jadi salah, maka hasilnya salah.

Kita diminta tabayyun oleh Allah ﷻ atas suatu berita (info) yang dibawa orang fasik, sebelum berkata dan mengambil keputusan. Jangan sampai ada korban yang akan engkau sesali karena engkau tak mau bertabayyun. Firman Allah ﷻ

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓ اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan (mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu (QS Al-Hujurat [49]: 6).

 

*) Masrifan Djamil adalah aktivis gerakan edukasi umat di berbagai ormas dan organisasi profesi dokter, dia adalah seorang dokter, doktor ilmu kedokteran, master of public health, ahli kesehatan masyarakat, ahli manajemen RS dan muballigh.

 

Baca Lainnya

Maknai Hari Pahlawan dengan Semangat Juang, Keteladanan dan Pengabdian untuk Rakyat

10 November 2025 - 12:06 WIB

Priwantoro, SE., S.Kom

Waspada Gula Tersembunyi: Belajar Baca Label Makanan

7 November 2025 - 11:12 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Hari Pemuda dan Strategi ‘Langkah Kuda’ Membangun Pemalang

17 Oktober 2025 - 17:08 WIB

Tarik Ulur Seleksi Sekda: Brebes Butuh Birokrasi Bersih

14 September 2025 - 08:02 WIB

Aristianto Zamzami

Bandingkan Pendapatan Anggota Dewan Berdasarkan Prinsip Setara

3 September 2025 - 02:13 WIB

Dr. Emrus Sihombing
Trending di Opini
error: Content is protected !!