Menu

Mode Gelap
Baru! Siang Ini, Kode Redeem FF Hari Ini Selasa 10 Februari 2026, Dapatkan Hadiah di reward.ff.garena.com Perkuat Soliditas Kader, PAC PDI Perjuangan Pemalang Gelar Rapat PAC Diperluas Tren Positif dan Tantangan Pesantren Tahfidz MAJT-Baznas Ketua TP PKK Pemalang Tekankan Gerakan Resik, Hijau, Apik hingga Wilayah Pesisir Rektor UIN Walisongo Tekankan Asesmen LAM-SPAK untuk Pengembangan Prodi KPI Jadwal Samsat Keliling Kabupaten Pemalang, Hari Ini Sabtu 7 Februari 2026: Cek Lokasi!

Opini

Tren Positif dan Tantangan Pesantren Tahfidz MAJT-Baznas

badge-check


					Isdiyanto Isman Perbesar

Isdiyanto Isman

Oleh: Isdiyanto Isman*

WARTA NASIONAL – Haflah imtihan ke- 6, Ponpes Tahfidz Al-Qur’an MAJT-Baznas Tengah, pada Selasa (4/2/2025), di Aula MAJT, menjadi ajang pengakuan dari 3 pimpinan lembaga yang merintis pesantren ini. Mereka mengakui kemajuan pesat yang dicapai di tahun ketiga berdirinya pesantren ini.

Pengakuan diawali olehb Ketua Pelaksana Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (PP MAJT) yang juga Ketua Baznas RI, Prof Dr KH Noor Achmad, MA, dilanjutkan Ketua Baznas Provinsi Jawa Tengah Dr KH Ahmad Darodji, MSi serta para ketua Baznas kabupaten dan kota se-Jawa Tengah.

Ajang pengakuan muncul terkait penyelenggaraan haflah yang dinilai rapi, tertib, dan berkualitas. Termasuk saat menyaksikan penampilan 20 santri dari berbagai tingkatan yang melantunkan khataman 30 juz, dengan kualitas bacaan yang dinilai bagus.

Meski Pesantren ini, 20 Februari 2026 besok, akan genap berusia tiga tahun, namun para pendiri mengakui akselerasi kinerjanya maju pesat. Artinya Pesantren dinilai berhasil mengatasi berbagai tantangan rumit di awal berdiri, baik pada aspek kelembagaan, silabi, kualitas musrif dan para kiai sepuh yang mengasuh hafalan dan kitab kuning. Ditemukan ramuannya yang tepat hingga menghasilkan santri kualitas tinggi.

Para pendiri menyebut, Pesantren berhasil menanamkan nilai Al-Qur’an secara luar biasa dalam konteks hafalan maupun dalam memahamkan nilai-nilainya. Pesantren ini tidak manarget kuantitas namun mengoptimalkan kualitas santri.

Para pendiri menekankan kinerja Pesantren harus terus akselertatif. Setahun lagi, merupakan batas akhir pendidikan di Pesantren ini untuk angkatan pertama. Mewujudkan wisuda santri-santri unggul yang memenuhi kriteria pendiri. Mewisuda para santri yang mutqin hafalannya, berintektual tinggi dan mampu memecahkan problem keumatan.

Ketua Baznas RI Prof KH Noor Achmad, MA meyakini Pesantren ini layak untuk dijadikan pesantren percontohan di Tanah Air. Nantinya akan melahirkan hafidz-hafidz Al-Qur’an yang mutqin, untuk diajarkan kepada masyarakat luas.

Dr KH Ahmad Darodji menekankan rintisan ini manfaatnya akan kita petik di hari kiamat, sebagai amal jarihiyah kita karena mencetak hafidz-hafidz yang mumpuni. Mumpung kita punya kesempatan dan kekuatan mari kita maksimalkan misi suci ini.
Para ketua Baznas kabupaten/ kota juga menyatakan siap mengirimkan calon-calon santri berikutnya di Pesantren ini.

Kritria

Sejumlah kriteria Pesantren ini sudah dirumuskan oleh para pendiri. Berikut ini kriterianya. Pertama, masa santri memperdalam hafalan Al-Qur’an hingga mutqin wajib rampung dalam waktu 4 tahun. Mutqin berarti kualitas hafalan serta pemahaman terhadap kandungannya, tidak diragukan.

Kedua, di sela menghafal pada kurun tersebut santri dibekali berbagai kitab kuning agar mampu menguasai fiqih. Dibekali juga ilmu jurnalisitik, public speaking, khithobah dan hukum yang terkait dengan kemasyarakatan.

Ketiga, Santri juga wajib kuliah S1, di Jurusan Hukum Syariah, pada Fakultas Hukum Universitas Wahid Hasyim, Semarang.

Formulasi ini dirumuskan pendiri, dengan tujuan santri tidak sekadar hafidz secara mutqin, tapi sekaligus memiliki intelektual yang bagus, menguasai jurnalistik, khithobah dan hukum kemasyarakatan.

Formula intinya, menyiapkan hafidz Qur’an untuk menjadi imam di masjid besar di kabupaten/ kota di Jawa Tengah serta dapat didayagunakan oleh Baznas yang membiayai santri tersebut. Setidaknya mampu menjadi imam salat tarawih sehari satu juz.

Formula dari pendiri inilah yang dikembangkan secara masif oleh para pengasuh di bawah kepemimpinan Dr KH Muhammad Syaifuddin Lc MA sebagai Direktur. Dalam tiga tahun memimpin Pesantren, alumnus Al-Azhar, Coiro, Mesir ini dinilai berhasil, dan selanjutnya diminta lebih meningkatkan kinerjanya lagi.

Ketika Muhammad Syaifudin dalam memimpin Pesantren ini, formula operasionalnya sudah godong matang oleh pendiri. Pengasuh tinggal menjalankan saja. Tiga lembaga yang menopang, terdiri Baznas Provinsi Jawa Tengah berkontribusi menanggung opeasional harian Pesantren. Kemudian MAJT menopang infrastruktur yang diperlukan.

Fasilitas yang disiapkan MAJT terdiri, asrama lengkap untuk santri, berupa kamar, almari, kipas angin, peralatan dapur, poli kesehatan, meja ngaji, seragam santri, kamar mandi hingga tempat wudlu yang representatif.

Sementara Baznas kabupaten/ kota berkewajiban mengirim setiap santri dengan kontribusi ke Pesantren per bulan Rp 2.000.000, yang digunakan untuk makan santri, kesehatan, laundy, wisata ziarah setiap 4 bulan sekali, haflah dua kali dalam setahun, wisuda. Dari jumlah tersebut tersisa Rp 800.000 diberikan kepada santri sebagai living cost.

Santri masuk ke Pesantren hingga hafidz bebas biaya, malah mendapatkan living cost. Adapun kuliahnya juga serba beasiswa, 50 persen dari Baznas Provinsi Jawa Tengah dan 50 Persen dari kampus Unwahas.

Selama kurun waktu tiga tahun berdiri, Pesantren sudah mewisuda 2 santri yang sudah nkhatam 30 juz, atas nama Ahmad Saiful Umam, utusan Baznas Banyumas diwisuda pada 22 Desember 2023. Kedua atas nama Adnan Baihaqi utusan Baznas Brebes, pada 6 Oktober 2025. Saat ini Adnan diangkat sebagai musrif di Pesantren ini.

Pesantren juga mengirim satu santri Muhammad Makinun Amin asal Wonosobo ke District Saiburi, Provinsi Pattani, Thailand, dalam rangka misi dakwah. Berangkat pada 18 November berakhir pada 15 Maret 2026.

Kini jumlah santri dari tiga angkatan mencapai 41 santri. Memang tidak banyak, karena untuk memenuhi persyaratan pesantren ini tidak mudah, antara lain harus berkelamin pria, lulusan SLTA dengan usia maksimal 24 tahun.

Selama proses penerimaan pendaftaran, ditemukan fakta menarik, yakni yang berminat masuk ke Pesantren ini justru kebanyakan berkelamin wanita dan lulusan SLTP, sehingga tidak memenuhi persyaratan.

Tantangan

Meski di usia tiga tahun menunjukkan progres pesat namun ke depan diperlukan langkah yang sustainability (berkelanjutan-red) agar mampu menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan yang akan mengadang. Untuk itu diperlukan langkah strategis, sistematis dan terprogram.

Andai bila terjadi kenaikan peminat secara masif untuk masuk Pesantren ini, apakah tiga pilar pendiri tetap akan memasilitasi, sebagaimana para seniornya, di angkatan awal, atau ke depan aturan akan berubah dengan menerapkan santri mondok secara mandiri?.

Termasuk santri baru ke depan apakah juga akan meraih beasiswa total darimBasnas Provinsi Jawa Tengah dan Unwahas, ketika harus kuliah S1 di Unwahas?. Bahkan kerja sama dengan Baznas Provinsi Jawa Tengah dan kabupaten/ kota apakah tetap akan terwujud meskipun berganti komisioner?. Inilah tantangan ke depan yang harus diantisipasi agar tetap pada posisi sustainability.

Penulis berharap kelanjutan Pesantren ini terus terjaga baik. Setidaknya sistem kongsi yang terbangun kuat antara pimpinan MAJT, Baznas Provinsi Jawa Tengah dan Baznas kabupaten/ kota se-Jateng terjaga keberlangsungannya meski komisioner berubah.

Siapapun yang akan memimpin ketiga institusi ini, patut memahami urgensi strategis atas kerja sama yang dirintis sejak 20 Februari 2023, dalam misi mencetak para hafidz Al-Qur’an yang mutqin, berintelektual bagus serta menguasai berbagai kitab kuning, jurnalistik dan berbagai persoalan hukum di masyarakat. Semoga Pesantren ini lestari. aamiiin

)* Alumnus Magister Ilmu Politik, Fisip, Unwahas, Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Qur’an MAJT-Baznas Jawa Tengah dan Ketua Humas Masjid Agung Jawa Tengah

Baca Lainnya

Refleksi Pasca Rajaban: Berapa Jumlah Muslimin yang Shalat 5 Waktu

31 Januari 2026 - 14:39 WIB

Masrifan Djamil

Pemilu Bukan Pesta Demokrasi

20 Januari 2026 - 13:17 WIB

Masrifan Djamil

Kritik Ekoteologi terhadap Proses Desakralisasi Alam

17 Januari 2026 - 08:39 WIB

Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag

Belajar, Bekerja, dan Mengajar di Tengah Dunia Maya: Untuk Apa Kita Hadir?

10 Januari 2026 - 08:48 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Filsafat Politik Cinta

8 Januari 2026 - 14:44 WIB

Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag
Trending di Opini