WARTA NASIONAL – Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Tengah, Mohammad Saleh, mengkritik penelitian Centre of Economic and Law Studies (CELIOS) bertajuk “Rapor Dua Tahun Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran” yang menempatkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam kategori menteri berkinerja terburuk.
Ia menilai kajian tersebut berpotensi tendensius karena melibatkan unsur “Kabinet Bayangan”.
“Saya tidak mau menanggapi metode dan soal teknisnya. Yang saya kecewa dengan penelitian ini adalah memasukkan unsur Kabinet Bayangan dalam prosesnya, sehingga patut diduga ada framing dan tendensi di dalamnya,” kata Saleh, pada Rabu (14/10/2026).
Menurut Saleh, keterlibatan kelompok oposisi dalam kajian tersebut berpotensi memunculkan bias politik.
Ia juga mempertanyakan relevansi konsep shadow cabinet di Indonesia yang menganut sistem presidensial, berbeda dengan sistem parlementer seperti Inggris dan Australia.
“Lha ini sistem presidensil, kok ada kabinet bayangan. Ada-ada saja,” ujarnya.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah itu menilai kinerja Bahlil perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk melalui program kedaulatan energi, mandatori biodiesel B50, serta percepatan hilirisasi mineral dan batu bara.
Menurutnya, hilirisasi turut mendorong peningkatan nilai ekspor nikel Indonesia dari sekitar 3,3 miliar dolar AS pada 2017–2018 menjadi lebih dari 40 miliar dolar AS.
Saleh juga menyinggung popularitas Bahlil sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan hasil sejumlah survei yang, menurutnya, menunjukkan peningkatan elektabilitas partai.
Ia menegaskan, penilaian terhadap kinerja pejabat publik seharusnya menggunakan indikator yang jelas, data yang dapat dipertanggungjawabkan, serta pendekatan yang berimbang.
“Lakukan kajian tanpa tendensi, pasti kami akan dengan senang menerimanya. Sebaik apa pun yang dilakukan pemerintah, tetap perlu perimbangan yang sehat dan adil,” tegas Saleh.***














