Menu

Mode Gelap
Usai Viral Surat Berkop Kelurahan Mulyoharjo Pemalang Minta Bingkisan Lebaran, Lurah Minta Maaf dan Tarik Surat Viral! Surat Berkop Kelurahan Mulyoharjo Pemalang Minta Bantuan Bingkisan Lebaran, Ini Tanggapan Warganet 7 Amalan Utama di Bulan Ramadan, Pastikan Melakukannya agar Pahala Berlipat Ganda Insantara Sebut 14 Nama Berpeluang Pimpin PBNU Periode Berikutnya Ekonomi Jadi Isu Paling Mendesak di Tengah Tingginya Kepuasan Publik terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa 3 Ramadan 1447 Hijriah, Sabtu 21 Februari 2026 di Kabupaten Pemalang dan Sekitarnya

Opini

Filsafat Politik Cinta

badge-check


					Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag Perbesar

Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag

Oleh: Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag*

WARTA NASIONAL – Serangan yang dilakukan Amerika serikat terhadap ibu kota Venezuela, Caracas, Sabtu dini hari (3/1/2026) dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro telah mengoyak konsep relasi hubungan internasional, kedaulatan negara dan hak asasi manusia.

Peristiwa ini telah memicu reaksi dunia internasional. Dunia mengutuk serangan ini sebagai tindakan kriminal yang dilakukan oleh negara, dan Amerika Serikat dituduh sebagai “terorisme negara”. Serangan tersebut juga telah mempertontonkan tindakan hegemonik Amerika Serikat yang telah melanggar hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan kedaulatan negara.

Agresi yang dilakukan Amerika Serikat ini dan kolonialisme Barat secara umum sesungguhnya merupakan ekspresi dari konsep filsafat politik yang dianut di Barat. Sepanjang tidak ada pembaharuan dalam pandangan filsafat politik Barat ini, maka serangkaian kolonialisme dan agresi militer, ekonomi, maupun budaya akan terus berulang di masa depan

Homo Homini Lupus

Pandangan filsafat politik barat ini sudah lama dikemukakan Thomas Hobbes (1588-1679) dalam karyanya Leviathan. Hobbes menggambarkan manusia sebagai serigala bagi manusia yang lain (homo homini lupus). Manusia digambarkan sebagai musuh yang siap menyerang dan mengeksploitasi satu sama lain. Manusia memiliki insting mendominasi, menguasai sumber daya, dan mengeliminasi pesaing

Akibatnya, relasi kehidupan penuh dengan rasa ketakutan, ketidakpercayaan, dan setiap manusia berpotensi menjadi ancaman bagi manusia yang lain. Dalam situasi seperti itu, maka akan terjadi bellum omnes contra omnima (perang semua melawan semua).

Selanjutnya, homo homini lupus ini juga berpotensi melahirkan relasi hegemonik manusia (negara) atas manusia (negara) lain. Atas nama hegemoni kekuasaan, manusia (negara) dapat saja melakukan legalisasi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Karena itu, HAM berpotensi dilanggar oleh pemegang kekuasaan.

Senada dengan konsep filsafat homo homini lupus, dalam filsafat Barat juga berkembang pandangan si vis bellum para pacem (jika kau mendambakan perdamaian, maka bersiap-siaplah menghadapi perang). Kedua jargon politik ini sesungguhnya memiliki asumsi yang sama, manusia adalah musuh dan ancaman. Akibatnya, banyak negara yang melakukan perlombaan kepemilikan senjata.

Filsafat Politik Cinta

Filsafat politik Barat yang melihat manusia sebagai musuh dan ancaman ini sudah saatnya diubah, agar terjalin tata dunia global yang lebih sejuk, santun dan damai. Cara pandang baru ini diawali dari dasar ontologis yang melihat manusia lain sebagai kawan, mitra dan pemilik bersama planet bumi ini. Karena itu, relasi harmoni perlu dibangun.

Kementerian agama RI sudah mengawali menawarkan konsep peradaban cinta dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan perlu mentradisikan sikap toleransi dalam hablun min Allah (hubungan vertikal-ketuhanan) dan hablun min al-nnas (hubungan horizontal-kemanusiaan). Asumsinya, Islam adalah agama yang menebar kasih sayang (rahmatan lil alamin) bagi semua kalangan. Jika pandangan ini dianut oleh semua negara, maka akan terbangun tata dunia global yang lebih harmoni.

)* Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang

Baca Lainnya

Tren Positif dan Tantangan Pesantren Tahfidz MAJT-Baznas

8 Februari 2026 - 16:41 WIB

Isdiyanto Isman

Refleksi Pasca Rajaban: Berapa Jumlah Muslimin yang Shalat 5 Waktu

31 Januari 2026 - 14:39 WIB

Masrifan Djamil

Pemilu Bukan Pesta Demokrasi

20 Januari 2026 - 13:17 WIB

Masrifan Djamil

Kritik Ekoteologi terhadap Proses Desakralisasi Alam

17 Januari 2026 - 08:39 WIB

Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag

Belajar, Bekerja, dan Mengajar di Tengah Dunia Maya: Untuk Apa Kita Hadir?

10 Januari 2026 - 08:48 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua
Trending di Opini