Oleh: Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag*
WARTA NASIONAL – Serangan yang dilakukan Amerika serikat terhadap ibu kota Venezuela, Caracas, Sabtu dini hari (3/1/2026) dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro telah mengoyak konsep relasi hubungan internasional, kedaulatan negara dan hak asasi manusia.
Peristiwa ini telah memicu reaksi dunia internasional. Dunia mengutuk serangan ini sebagai tindakan kriminal yang dilakukan oleh negara, dan Amerika Serikat dituduh sebagai “terorisme negara”. Serangan tersebut juga telah mempertontonkan tindakan hegemonik Amerika Serikat yang telah melanggar hukum internasional, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan kedaulatan negara.
Agresi yang dilakukan Amerika Serikat ini dan kolonialisme Barat secara umum sesungguhnya merupakan ekspresi dari konsep filsafat politik yang dianut di Barat. Sepanjang tidak ada pembaharuan dalam pandangan filsafat politik Barat ini, maka serangkaian kolonialisme dan agresi militer, ekonomi, maupun budaya akan terus berulang di masa depan
Homo Homini Lupus
Pandangan filsafat politik barat ini sudah lama dikemukakan Thomas Hobbes (1588-1679) dalam karyanya Leviathan. Hobbes menggambarkan manusia sebagai serigala bagi manusia yang lain (homo homini lupus). Manusia digambarkan sebagai musuh yang siap menyerang dan mengeksploitasi satu sama lain. Manusia memiliki insting mendominasi, menguasai sumber daya, dan mengeliminasi pesaing
Akibatnya, relasi kehidupan penuh dengan rasa ketakutan, ketidakpercayaan, dan setiap manusia berpotensi menjadi ancaman bagi manusia yang lain. Dalam situasi seperti itu, maka akan terjadi bellum omnes contra omnima (perang semua melawan semua).
Selanjutnya, homo homini lupus ini juga berpotensi melahirkan relasi hegemonik manusia (negara) atas manusia (negara) lain. Atas nama hegemoni kekuasaan, manusia (negara) dapat saja melakukan legalisasi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Karena itu, HAM berpotensi dilanggar oleh pemegang kekuasaan.
Senada dengan konsep filsafat homo homini lupus, dalam filsafat Barat juga berkembang pandangan si vis bellum para pacem (jika kau mendambakan perdamaian, maka bersiap-siaplah menghadapi perang). Kedua jargon politik ini sesungguhnya memiliki asumsi yang sama, manusia adalah musuh dan ancaman. Akibatnya, banyak negara yang melakukan perlombaan kepemilikan senjata.
Filsafat Politik Cinta
Filsafat politik Barat yang melihat manusia sebagai musuh dan ancaman ini sudah saatnya diubah, agar terjalin tata dunia global yang lebih sejuk, santun dan damai. Cara pandang baru ini diawali dari dasar ontologis yang melihat manusia lain sebagai kawan, mitra dan pemilik bersama planet bumi ini. Karena itu, relasi harmoni perlu dibangun.
Kementerian agama RI sudah mengawali menawarkan konsep peradaban cinta dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan perlu mentradisikan sikap toleransi dalam hablun min Allah (hubungan vertikal-ketuhanan) dan hablun min al-nnas (hubungan horizontal-kemanusiaan). Asumsinya, Islam adalah agama yang menebar kasih sayang (rahmatan lil alamin) bagi semua kalangan. Jika pandangan ini dianut oleh semua negara, maka akan terbangun tata dunia global yang lebih harmoni.
)* Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang

















