WARTA NASIONAL – Turunnya hujan di wilayah Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, belum sepenuhnya mengakhiri persoalan krisis air bersih yang dialami masyarakat.
Meski hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah, debit air yang masih rendah membuat kebutuhan air bersih warga belum terpenuhi secara optimal.
Melihat kondisi tersebut, Perum Perhutani melalui Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pemalang kembali menunjukkan kepeduliannya dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Desa Tamansari dan Desa Dukuhbangsa, Kecamatan Jatinegara, selama dua hari berturut-turut, Senin hingga Selasa (2–3/11/2026).
Administratur (Adm) KPH Pemalang, Heri Nur Afandi, mengatakan penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Perhutani terhadap masyarakat yang masih terdampak kekeringan meskipun hujan mulai turun.
Menurutnya, bantuan air bersih tersebut bukan kali pertama disalurkan Perhutani selama musim kemarau 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan sehari-hari.
“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kami kepada masyarakat. Meskipun hujan sudah mulai turun, faktanya kebutuhan air bersih warga masih belum sepenuhnya terpenuhi,” ungkap Heri Nur Afandi.
Tak hanya memberikan bantuan air bersih, KPH Pemalang juga telah merencanakan program penanaman berbagai jenis tanaman buah di sepanjang sempadan sungai.
Program penghijauan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan, meningkatkan daya resap air, serta mempertahankan keberadaan sumber-sumber mata air.
Heri menegaskan, keberadaan vegetasi di sekitar aliran sungai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan ketersediaan air. Karena itu, upaya pelestarian lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Upaya ini merupakan bagian dari kepedulian Perhutani terhadap kelestarian hutan dan lingkungan. Kami berharap penanaman pohon di sepanjang sempadan sungai nantinya dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, khususnya dalam menjaga ketersediaan sumber air,” pungkasnya.
Sementara itu, salah seorang warga Desa Tamansari, Sumyati, membenarkan bahwa hujan sudah beberapa kali turun di wilayahnya. Namun, intensitas hujan yang masih rendah membuat air belum mampu mengisi sumber-sumber air, termasuk sumur milik warga.
“Di desa kami dalam sepekan ini sudah beberapa kali turun hujan. Namun, debit airnya masih sedikit dan belum sampai mengisi sumber air di dalam sumur. Makanya, selama kebutuhan air bersih belum terpenuhi, kami masih harus membeli air. Untuk satu jeriken, harganya Rp3.000,” tutur Sumyati.
Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih dari Perhutani KPH Pemalang.
Menurutnya, bantuan tersebut dapat mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, terutama untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
“Tentunya kami senang mendapatkan bantuan air bersih ini. Sangat membantu dan bisa meringankan pengeluaran kami untuk membeli air bersih,” pungkasnya.
Bantuan tersebut menjadi bukti bahwa turunnya hujan belum tentu langsung mengakhiri krisis air bersih. Bagi warga yang sumber airnya belum kembali normal, dukungan berbagai pihak masih sangat dibutuhkan sembari menunggu kondisi sumber air pulih.***















