WARTA NASIONAL – Krisis air bersih kian mencekik warga Desa Tamansari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Selama sekitar lima bulan tanpa hujan yang cukup, sumber-sumber mata air yang menjadi tumpuan warga terus menyusut.
Air yang tersisa harus diperebutkan secara bergiliran. Sejak dini hari, warga mulai berdatangan membawa jeriken dan ember untuk mengantre di sumber mata air yang debitnya semakin kecil.
Ironisnya, setelah menunggu berjam-jam, air yang didapat belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut mendorong Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Tegal menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Tamansari. Sebanyak 20 ribu liter air bersih disalurkan melalui PDAM Kabupaten Tegal untuk membantu memenuhi kebutuhan warga yang terdampak kemarau panjang.
Ketua IBI Cabang Kabupaten Tegal, R. Siti Iva Rifda Ch., S.ST., Bdn., MM, melalui Sekretaris IBI Cabang Tegal, Yuda Ayu Timorini, S.ST., M.Kes., mengatakan Desa Tamansari merupakan salah satu wilayah yang setiap musim kemarau mengalami persoalan kekurangan air bersih.
Padahal, secara geografis Desa Tamansari berada di kawasan kaki Gunung Slamet. Namun, kondisi geografis tersebut tidak serta-merta membuat masyarakat terbebas dari krisis air.
“Desa Tamansari setiap musim kemarau mengalami krisis air bersih. Walaupun secara geografis masuk wilayah kaki Gunung Slamet, daerah Desa Tamansari merupakan daerah tadah hujan,” ujar Yuda.
Menurut Yuda, penyaluran bantuan air bersih tersebut juga menjadi bagian dari kepedulian IBI Cabang Tegal dalam menyambut Hari Kesehatan Nasional ke-62.
“Bantuan air bersih ini sekaligus merupakan bentuk kepedulian IBI Cabang Tegal dalam menyambut Hari Kesehatan Nasional ke-62. Kami melihat kondisi masyarakat yang sangat antusias mendapatkan air bersih. Ini menunjukkan bahwa warga memang benar-benar membutuhkannya,” katanya.
IBI Cabang Tegal, lanjut Yuda, akan berupaya kembali menyalurkan bantuan ke wilayah lain yang mengalami kondisi serupa.
“Insyaallah IBI Cabang Tegal akan mengupayakan menyalurkan bantuan air bersih di wilayah-wilayah yang membutuhkan,” ujarnya.
Ia berharap bantuan tersebut tidak hanya meringankan beban warga, tetapi juga membantu masyarakat menjaga kebutuhan air untuk kehidupan sehari-hari dan kesehatan selama musim kemarau.
“Semoga bantuan air bersih yang kami salurkan bisa bermanfaat bagi masyarakat dan memenuhi kebutuhan air bersih guna menjaga kesehatan di musim kemarau,” kata Yuda.
Satu Jeriken Rp3.000, Warga Pilih Antre Berjam-jam
Bagi warga Tamansari, mendapatkan air bersih kini bukan perkara sederhana. Sumber air yang biasanya menjadi andalan mulai kehilangan debitnya.
Susanti, warga Desa Tamansari, mengatakan kondisi kekurangan air telah dirasakan selama sekitar lima bulan terakhir. Debit sejumlah sumber mata air terus menurun, bahkan beberapa sumur milik warga tidak lagi bisa digunakan setiap hari.
“Bahkan ada rumah warga yang sumurnya hanya bisa diambil airnya dua hari sekali. Itu saja hanya bisa mendapatkan sekitar lima ember,” ungkap Susanti.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur waktu untuk mendapatkan air. Mereka rela menunggu berjam-jam di sumber mata air yang masih mengeluarkan air.
“Setiap tahun memang kalau musim kemarau, Desa Tamansari selalu mengalami krisis air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air setiap hari, kami mengambil di sumber mata air yang masih ada. Itu pun harus mengantre berjam-jam,” tuturnya.
Pilihan lainnya adalah membeli air. Namun, bagi sebagian warga, membeli air setiap hari tentu menambah beban pengeluaran.
“Kalau ingin cepat mendapatkan air bersih, kami harus membeli. Satu jeriken sampai ke rumah sekitar Rp3.000. Selain itu, ya paling menunggu bantuan air bersih datang,” ujar Susanti.
Setiap kali bantuan air bersih tiba, warga langsung berdatangan. Jeriken dan ember dibawa dari rumah untuk mendapatkan bagian air yang sangat dibutuhkan.
Antrean panjang itu menjadi gambaran nyata bagaimana kemarau panjang telah mengubah air bersih menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi warga Tamansari.
Warga berharap bantuan air bersih tidak hanya datang sesekali, tetapi dapat terus diberikan selama kemarau masih berlangsung dan sumber mata air belum kembali normal.
Bagi mereka, satu tangki air bukan sekadar bantuan. Air tersebut menjadi penopang kehidupan di tengah kemarau yang tak kunjung berakhir.**














