WARTA NASIONAL – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) Universitas Semarang (USM) menggelar kegiatan bertajuk “Penguatan Informasi dan Literasi Digital Berbasis Perspektif Gender pada Komunitas Perempuan Merah Delima” di Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Kegiatan ini menyasar Kelompok Merah Delima (Menanti Cerah Dengan Lingkungan Mangrove) yang beranggotakan 17 perempuan pesisir.
Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan perempuan dalam memanfaatkan media digital secara produktif sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender.
Tim pengabdi dipimpin oleh Dr. Gita Aprinta E.B, M.Si dengan anggota Errika Dwi Setyawatie, M.I.Kom, Retno Manuhoro Setyowati, M.I.Kom, dan Ayang Fitrianti, M.I.Kom.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Gita Aprinta E.B, M.Si menegaskan bahwa perempuan saat ini perlu memiliki keterampilan digital, khususnya dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemberdayaan ekonomi.
“Perempuan idealnya terampil menggunakan media sosial untuk meningkatkan income keluarga sekaligus membangun kesadaran akan harkat dan kesetaraan gender,” ujarnya.
Ketua Kelompok Merah Delima, Sunarni, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menyebut perempuan pesisir masih membutuhkan panduan dalam menggunakan media sosial secara bijak dan produktif.
“Kami membutuhkan rambu-rambu dalam bermedia sosial, terutama untuk membangun kesadaran perempuan dalam menjalankan peran domestik, memperjuangkan kesetaraan gender, serta meningkatkan ekonomi keluarga,” tuturnya.

FTIK USM Perkuat Literasi Digital Berbasis Gender bagi Perempuan Pesisir Tambakrejo
Selama ini, Kelompok Merah Delima aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan, seperti memproduksi keripik mangrove, terasi bubuk, dan rebon udang. Namun, mereka masih menghadapi kendala dalam pemasaran serta konsistensi produksi karena harus membagi waktu dengan tanggung jawab domestik.
Sebagai bagian dari kelompok eduwisata Camar di Tambakrejo, para anggota berharap adanya dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak untuk mengembangkan usaha mereka.
Salah satu anggota kelompok, Ningrum, menekankan pentingnya kepercayaan diri perempuan pesisir dalam memanfaatkan media sosial. Ia juga menyarankan penggunaan sistem pre-order sebagai strategi pemasaran agar produksi lebih terencana.
“Perempuan pesisir harus lebih percaya diri memasarkan produk mereka melalui media sosial,” ungkapnya.
Dalam sesi pelatihan, Ayang Fitrianti, M.I.Kom, memberikan tips praktis pemasaran digital, seperti rutin memperbarui status WhatsApp dengan konten promosi. Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat memperluas jangkauan pasar.
Sementara itu, Errika Dwi Setyawatie, M.I.Kom, mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial agar komunikasi tetap positif dan profesional.
Retno Manuhoro Setyowati, M.I.Kom, juga mendorong peserta untuk mengasah kemampuan fotografi sederhana guna menunjang promosi produk.
“Percaya diri saja untuk menampilkan foto produk, bahkan bisa juga mendokumentasikan proses pembuatannya. Itu akan terlihat otentik dan menunjukkan bahwa Kelompok Merah Delima ini berdaya, mandiri, dan melek digital dalam pemasaran,” jelasnya.
Sebagai penutup, Dr. Gita Aprinta E.B, M.Si menegaskan bahwa literasi digital berbasis perspektif gender dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti memahami fungsi media sosial secara bijak, membangun kepercayaan diri perempuan di ruang digital, serta memanfaatkannya untuk mendukung kemandirian ekonomi keluarga.
Melalui kegiatan ini, diharapkan perempuan pesisir di Tambakrejo tidak hanya semakin melek digital, tetapi juga mampu memperkuat posisi sosial dan ekonomi mereka di tengah masyarakat.***















