Oleh: dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua*
WARTA NASIONAL – Perkembangan teknologi digital saat ini sangat masif dan memengaruhi semua kalangan, dari anak-anak sampai kakek-nenek. Kontennya pun beragam dari hiburan, politik, lawakan, bahkan judi yang terang-terangan ditawarkan di dunia maya.
Ibarat sebuah gudang, kita bisa mengambil apa saja dari dalamnya. ada makanan, barang pecah belah, komputer tetapi jika salah memilih, kita juga bisa mendapatkan tikus. Yang patut menjadi perhatian, dunia kita akhirnya sebagian besar “hidup” di ruang digital.
Data menunjukkan betapa besarnya ruang itu. Survei APJII mencatat penetrasi internet Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 79,5% atau lebih dari 221 juta pengguna. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan sekitar 7 jam lebih per hari di internet. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah potret waktu hidup kita. Seorang penulis pernah mempertanyakan, “Is Google making us stupid?” apakah ketergantungan pada internet membuat kita berpikir dangkal. Benar atau tidaknya masih perlu diuji, tetapi pertanyaan itu cukup untuk membuat kita waspada: teknologi tidak otomatis memuliakan manusia; manusialah yang menentukan arahnya.
Lalu muncul pertanyaan yang seharusnya kita ajukan pada diri sendiri, bukan hanya kepada para pembelajar di bangku kuliah, tetapi kepada para semua orang sebagai pembelajar kehidupan, sebagai dosen atau pun sebagai pengelola lembaga pendidikan : kita menggunakan dunia digital ini untuk apa? Sekadar memenuhi kebutuhan hidup sendiri, mencari hiburan dan keuntungan? Atau kita hadir untuk memberi manfaat, menambah kebaikan, dan memuliakan kehidupan?
Pepatah mengatakan, “Ilmu itu cahaya, tetapi cahaya perlu wadah.” Wadah itu adalah niat. Buku *Digital Minimalism* mengingatkan bahwa teknologi seharusnya dipakai secara sadar, bukan sekadar kebiasaan. Sementara *Man’s Search for Meaning* menegaskan bahwa manusia bertumbuh karena makna, bukan sekadar kenyamanan. Artinya, belajar apa pun baik lewat buku, jurnal, video, atau pengalaman akan bernilai jika diarahkan pada tujuan yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Kisah sahabat Mush‘ab bin ‘Umair memberi teladan. Ia meninggalkan kenyamanan hidupnya dan memilih menjadi pembawa ilmu dan akhlak ke Madinah. Ia mengajar dari rumah ke rumah, membangun kesadaran, dan mengubah arah sebuah masyarakat. Ilmunya bukan untuk status, tetapi untuk memuliakan kehidupan orang banyak.
Maka, apa pun peran kita hari ini, menjadi pekerja, pelajar, pendidik, orang tua, atau pemimpin semuanya kembali pada satu kesadaran yang sama yaitu kehidupan kita bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi untuk memuliakan kehidupan. Bekerjalah dengan niat memberi manfaat. Belajarlah tanpa merasa terlambat. Mengajarlah bukan hanya agar orang “bisa”, tetapi agar mereka menjadi manusia yang lebih bermartabat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Dari kesadaran inilah, ilmu menemukan maknanya, dan hidup menemukan kemuliaannya. Pemalang, 10 Januari 2026.***
*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital

















