Menu

Mode Gelap
Jateng Media Summit 2026 Jadi Momentum Kebangkitan Media Lokal di Tengah Gempuran Digital Jelang Iduladha 2026, Pertamina Jateng-DIY Jamin Stok BBM dan Elpiji Tetap Aman Harkitnas 2026, Yusuf Hidayat: Semangat Kebangkitan Nasional Harus Dijaga Generasi Muda PKL di Depan PT Cassuarina Harnessindo Perlu Penataan Demi Keselamatan dan Ketertiban Info Loker! Lowongan Kerja Dapur SPPG di Kota Semarang, Butuh Chef dan Admin Medsos Sore Ini! Kode Redeem FF Terbaru Senin, 18 Mei 2026: Klaim Bundle Gintama hingga Emote Gratis

Opini

Saat Keinginan Tidak Menjadi Ambisi: Pelajaran dari Abu Dzar Al-Ghifari

badge-check


					dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua Perbesar

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua

Oleh : dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua*

WARTANASIONAL.COM – Sobat Inspiratif.. Pernahkah kita berfikir untuk menjadi orang yang berkuasa? Jadi ketua RT ketua RW, kepala sekolah, lurah, camat Kepala dinas dan seterusnya.

Banyak orang menganggap bahwa memiliki jabatan adalah tanda keberhasilan, simbol kehormatan, atau bahkan sarana untuk berbuat kebaikan. Tidak jarang, keinginan ini muncul dengan niat yang tulus, merasa mampu membawa perubahan atau menegakkan keadilan. Namun, tidak semua orang ditakdirkan untuk memegang kekuasaan, dan tidak semua yang berilmu atau saleh cocok menjadi pemimpin.

Inilah pelajaran berharga dari kisah seorang tokoh yang berilmu dan dekat dengan kekuasaan tetapi tidak diberi kekuasaan oleh penguasa saat itu.

Beliau adalah salah satu tokoh yang dikenal karena keteguhan, keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran, serta kesederhanaannya dalam menjalani hidup. bahkan karena keberaniannya sempat menyuarakan kebenaran di depan umum sampai dipukuli massa. Tapi beliau tidak gentar tetap tegak dalam menyuarakan kebenaran.

Beliau adalah Abu Dzar Alghifari, bukan hanya seorang yang berilmu dan saleh, tetapi juga sangat dekat dengan pemimpin besar Umat Islam, Muhammad ﷺ. Namun ada satu kisah menarik penuh hikmah dalam perjalanan kehidupannya yang patut menjadi pelajaran buat kita semua.

Suatu hari Abu Dzar datang kepada Muhammad ﷺ dan meminta amanah untuk menduduki jabatan di pemerintahan. Permintaannya bukan karena ambisi atau kecintaan terhadap kekuasaan, melainkan karena *ingin berkontribusi lebih besar dalam pemerintahan. Dengan integritas yang tinggi dan ketulusan hati, ia merasa mampu menjalankan tugas tersebut dengan baik.

Namun Muhammad ﷺ dengan penuh kasih sayang menolak permintaan Abu Dzar untuk menduduki jabatan tersebut. Beliau bersabda:

“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, sementara jabatan itu adalah amanah. Dan pada hari kiamat, jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi mereka yang mengambilnya dengan hak dan melaksanakan kewajibannya dengan baik.” (HR. Muslim)

Penolakan ini bukan karena Abu Dzar tidak jujur atau kurang berilmu, tetapi Muhammad ﷺ memahami bahwa seorang pemimpin – di semua tingkatan bahkan pemimpin keluarga – membutuhkan lebih dari sekadar keimanan dan integritas. Seorang pemimpin harus mampu mengelola berbagai urusan dengan kebijaksanaan, diplomasi, dan kesabaran dalam menghadapi masyarakat yang beragam. Abu Dzar adalah seorang yang memiliki sifat yang tegas dalam menegakkan kebenaran, tetapi bisa jadi menjadi kurang fleksibel dalam menghadapi tantangan sosial dan politik yang membutuhkan strategi yang lebih halus.

Kemudian bagaimana sikap Abu Dzar setelah permintaannya ditolak? Apakah ia kecewa, merasa tersisih, atau justru “mutung” , tidak mau kerja dengan baik lagi atau asal asalan dalam bekerja? Tidak. Justru beliau menerima keputusan itu dengan keikhlasan dan kebesaran hati.
Beliau tidak marah, tidak membantah, dan tidak menyalahkan siapa pun. Sebaliknya Abu Dzar tetap dalam barisan, tetap mendukung penuh pimpinan dengan dedikasi tinggi. Lalu beliau memilih menjauhi pertarungan kekuasaan dan menjalani hidup dalam kesederhanaan.

Abu Dzar menghabiskan sisa hidupnya dengan zuhud, menghindari kekuasaan, dan terus mengingatkan umat Islam agar tidak terjerat dalam ambisi duniawi yang berlebihan. Ia memilih hidup dalam kesunyian, lebih banyak menghabiskan waktu dalam ibadah, dan tetap teguh dalam prinsipnya.

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua keinginan harus diwujudkan menjadi ambisi. Terkadang, sesuatu yang kita anggap baik belum tentu cocok untuk kita. Allah memiliki rencana yang lebih baik sesuai dengan kapasitas dan keikhlasan kita. Abu Dzar Al-Ghifari adalah contoh nyata bagaimana seseorang bisa tetap teguh dalam prinsipnya, meskipun harapannya tidak menjadi kenyataan. Keikhlasan menerima keputusan yang tidak sesuai dengan keinginan adalah bagian dari kebesaran hati dan tanda kedewasaan iman.

*) Dokter yang juga aktivis sosial kemasyarakatan serta pegiat dunia digital ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Saat Beras dan Doa Jadi Restu di Tanah Rencong

13 Mei 2026 - 08:25 WIB

Thaharah Mu’asyirah

Tradisi atau Adat Istiadat Daerah: Mekhadat di Aceh Tenggara

12 Mei 2026 - 14:35 WIB

Sopy Khadijah UIN Sultanah Nahrasiah Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan prodi Tadris Bahasa Indonesia

ASN Curang di Brebes: Bupati Jangan Hanya Bisa ‘Geram’

2 Mei 2026 - 15:28 WIB

Aristianto Zamzami

Merawat Identitas di Tanah Rantau: Filosofi “Temu Manten” Masyarakat Transmigran di Atu Lintang

28 April 2026 - 19:27 WIB

Temu Manten

GERD dan Psikosomatis: Keluhan Nyeri Nyata atau dibuat-buat?

24 April 2026 - 08:09 WIB

dr. Darmanto, SH, M.Kes, SpPD, FINASIM, FISQua
Trending di Opini