WARTA NASIONAL – Pasca bencana tanah bergerak yang terjadi pada 2 Februari 2026 di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, kondisi warga terdampak hingga kini masih memprihatinkan.
Bencana tersebut menyebabkan kerusakan di berbagai sektor, mulai dari perumahan, fasilitas umum, sarana pendidikan, hingga tempat ibadah, sehingga memaksa warga meninggalkan Pedukuhan Tigasari, Desa Padasari.
Saat ini, sebagian warga masih bertahan di pengungsian yang tersebar di rumah-rumah penduduk serta hunian sementara di Desa Capar. Salah satu persoalan utama yang dihadapi para pengungsi adalah krisis air bersih.
Menanggapi kondisi tersebut, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama Majelis Wakil Cabang (MWC) Kecamatan Jatinegara menyalurkan bantuan air bersih sekaligus menggelar layanan pengobatan gratis bagi warga terdampak.
Suwarti, salah satu warga yang tinggal di hunian sementara Desa Capar, mengungkapkan bahwa meskipun kebutuhan dasar relatif terpenuhi, ketersediaan air bersih masih sangat terbatas.
“Terkadang kalau air di penampungan habis dan pengisian terlambat, saya terpaksa ke sungai terdekat untuk mandi dan mencuci. Tapi untuk memasak dan minum, tetap menggunakan air kiriman atau bantuan karena tidak asin,” ujar Suwarti pada Sabtu 18 April 2026.
Ia juga menambahkan bahwa keberadaan sumur bor di hunian sementara belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga, terutama bagi keluarga dengan bayi.
“Apalagi saya punya anak yang masih berumur dua bulan, kebutuhan air bersih sangat penting. Saya sangat berterima kasih kepada LPBI Nahdlatul Ulama yang sudah membantu. Harapannya bantuan ini bisa terus berlanjut,” tambahnya.
Ketua MWC NU Kecamatan Jatinegara, Muhamad Ramdhon, menyampaikan bahwa pihaknya akan menjadwalkan penyaluran bantuan secara rutin.
“Untuk saat ini kami membantu air bersih sebanyak 24.000 liter insya Allah, setelah melihat kondisi di lapangan, kami akan mengupayakan bantuan air bersih dan pengobatan gratis secara berkala, minimal dua kali dalam satu bulan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pembentukan LPBI di tingkat kecamatan merupakan bagian dari upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Kami telah membentuk lembaga penanggulangan bencana dan iklim di wilayah Jatinegara agar setiap kejadian alam yang tidak terduga dapat segera dilakukan asesmen secara detail dan cepat,” tutur Ramdhon.
Bantuan ini menjadi bukti nyata kepedulian Nahdlatul Ulama melalui program kerja di bidang kebencanaan.
Sementara itu, warga terdampak berharap adanya solusi jangka panjang, terutama dalam penyediaan air bersih yang memadai di lokasi pengungsian dan hunian sementara.















